Senin, 27 Jun 2016 16:00 WIB

Menuju IPO, Line Sulit Yakinkan Investor

Rachmatunnisa - detikInet
Foto: Irna Prihandini/detikInet Foto: Irna Prihandini/detikInet
Jakarta - Line dijadwalkan melakukan dua Initial Public Offering (IPO) dalam tiga pekan lagi. Kesulitan meyakinkan investor, jalan Line untuk melantai di bursa saham tidak mulus.

Perusahaan yang dikenal dengan karakter stikernya yang imut-imut ini harus menaikkan nilai perusahaannya sebesar USD 1 miliar untuk terdaftar di bursa saham New York dan Tokyo bulan depan, sehingga valuasi Line bisa lebih dari USD 5 miliar.

Jika berhasil mencapai valuasi sebesar itu, Line akan menorehkan sejarah IPO perusahaan teknologi terbesar di 2016. Namun para manager pendanaan dan investor agaknya skeptis dengan pasar Line dan prospek ekspansinya.

Mereka juga mempertanyakan apakah strategi iklan yang dijalankan Line akan bekerja dengan baik. Dalam pengajuan IPO-nya, Line menyebutkan akan memanfaatkan empat pasar utamanya, yakni Jepang, Thailand, Indonesia dan Taiwan.

"Line berupaya menghasilkan lebih banyak pendapatan dari layanan seperti iklan dan menawarkan lebih banyak produk yang disesuaikan dengan rasa lokal," tulis Line, seperti dilansir Fortune, Senin (27/6/2016).

Jelang IPO, Line memang mulai membuka sejumlah informasi keuangan yang sebelumnya dijaga ketat dari publik, salah satunya mengenai keuntungan yang diperolehnya dari berjualan stiker.



Brown, Moon, Cony, James dan Sally tak hanya menggemaskan, tetap juga membantu Line mendulang untung triliunan setiap tahunnya. Line bisa menghasilkan lebih dari USD 20 juta per bulan dari berjualan sticker karakter.

Stiker bukan satu-satunya ladang uang bagi Line. Dalam pengajuan IPO-nya, Line juga mengungkap USD 18,8 juta didapatnya dari penjualan merchandise dan kesepakatan lisensi karakter-karakternya tersebut. Angka ini naik dua kali lipat dari pencapaian di 2014.

"Penyesuaian layanan sesuai dengan 'rasa' lokal dan pemasaran stiker yang kami lakukan sangat penting," kata CEO Line Takeshi Idezawa.

Meski pendapatan Line dari Brown cs menggembirakan, nyatanya tak cukup membuat para manager pemodal luluh. Berdasarkan pengawasan mereka, pertumbuhan Line di pasar aplikasi messaging global terbilang lambat.

"Saya tidak tertarik. Pertumbuhannya ke depan sangat buruk," kata Yasuo Sakuma, Portfolio Manager dari perusahaan investasi Bayview Asset Management.

"Di antara empat negara yang menjadi fokusnya, hanya Indonesia yang punya ruang besar bagi pertumbuhannya. Meski demikian, prospek bisninya pun tak semudah itu," sambungnya. (rns/ash)