Jakarta, misalnya. Ibukota Indonesia ini menjadi salah satu kota yang menerapkan penggunaan teknologi cloud dalam menerapkan konsep Jakarta smart city yang digalakkan dalam beberapa tahun belakang.
Sayangnya, penerapan teknologi cloud ini baru sebatas pengembangan aplikasi pendukung smart city. Belum sepenuhnya diterapkan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saat ini sih sebenarnya bisa dikatakan belum menggunakan cloud. Karena memang dari sisi regulasinya sendiri masih belum ada kepastian bisa menggunakan cloud. Tapi untuk pengembangan aplikasi sudha menggunakan cloud. Karena kan cloud sendiri bisa dipakai untuk pengembangan dan juga untuk saat aplikasi itu diterapkan," papar Prasetyo kepada detikINET di kantor Microsoft, Jakarta, Kamis (31/3/2016).
Adapun aplikasi yang diterapkan menurut Prasetyo ada beberapa. Namun yang saat ini menjadi fokus adalah aplikasi yang menjadi penghubung dari semua feedback masyarakat.
"Sebelumnya kan kita sudah punya aplikasi yang dipakai untuk melaporkan keluhan. Tapi kami akan mengekspansi lagi ke aspirasi dan usulan. Sehingga tujuan kami untuk menjadi pemerintah yang mendengar bisa berjalan dengan bagik," tutur Pras.
Bicara mengenai cloud, Prasetyo tidak menampik jika teknologi cloud bisa mendatangkan banyak manfaat terhadap penerapan konsep kota pintar ini. "Secara khusus melalui cloud, kami dapat mengetahui, memahami, dan mengendalikan berbagai sumber daya di dalam kota lebih efektif dan efisien," papar Prasetyo.
Dengan demikian, lanjut Prasetyo, pihaknyaa berharap pada akhirnya bisa membantu memaksimalkan pelayanan publik, memberikan solusi penyelesaian masalah, dan mendukung pembangunan berkelanjutan.
Prasetyo mengakui jika penggunaan cloud bisa lebih efisien ketimbang menggelontorkan biaya untuk server. Menurutnya lalau memiliki server sendiri yang jelas itu pasti butuh pembelian barang di awal yang membutuhkan biaya tidak sedikit. Belum lagi biaya perawatan.
"Namun jika Cloud, itu kita bisa dibilang tahu beres. Bayar berdasarkan penggunaan. Sebagai contoh, kalau ada event seperti laporan pajak yang tiba-tiba menimbulkan traffic yang tinggi, kita tinggal menambah kapasitas. Lebih dinamis lah," terang Prasetyo.
Ada plus, tentu ada minusnya. Menurut Prasetyo minus dari cloud datang dari kekhawatiran dari sisi keamanan. Keamanan sendiri Prasetyo mengatakan bisa datang dari berbagai aspek, yakni keamanan data, keamanan aplikasi, atau keamanan infrastruktur fisik di tempat data center cloud.
"Nah, ini lah yang masih kita kaji lagi keamanan yang seperti apa yang menjadi kekhawatiran kita bersama. Dan kalau misalkan ada suatu keinginan dari pemerintah untuk menuju ke cloud, kita harus memastikan bahwa kekhawatiran itu tidak ada," tutur Prasetyo.
Misalnya, punya data center sendiri. Dari segi keamanan apakah itu sudah sesuai dengan yang kita butuhkan. Apakah sudah aman atau tidak.
"Keamanan bisa berarti, ini servernya kerap mati listrik atau tidak. Atau servernya bisa disusupi orang atau tidak. Seperti itu kira-kira," ucap Prasetyo.
Meski dipenuhi ide-ide seperti tadi, sayangnya Prasetyo belum bisa memperkirakan kapan teknologi cloud ini bisa diterapkan untuk Jakarta Smart City. "Kalau saat ini kami belum bisa menentukan kapan rencana ke depannya dengan cloud seperti apa karena regulasi tadi," ujar Prasetyo.
"Tapi yang jelas ada beberapa pendekatan yang bisa dilakukan. Kami sendiri coba menelaah kembali kira-kira apa yang tidak masuk ke dalam peraturan. Seperti misalnya, data-data yang bersifat publik bisa ditaruh di cloud, ya sudah kami taruh di cloud," pungkas Prasetyo. (mag/rou)