Kategori Berita
Daerah
Layanan
Detik Network
detikInet
Mengapa Vendor Elektronik Jepang Tak Sejaya Dulu?

Mengapa Vendor Elektronik Jepang Tak Sejaya Dulu?


Fino Yurio Kristo - detikInet

Sharp (gettyimages)
Jakarta -

Rasanya belum lama vendor elektronik Jepang jadi rujukan kala membeli perangkat elektronik. Kalau beli televisi ya Sony. Kalau beli AC ya Panasonic. Laptop mungkin Toshiba. Tapi era itu sepertinya sudah pudar.

Sudah pasti merek asal Jepang masih banyak peminatnya dan terkenal kualitasnya, tapi makin banyak yang sepertinya memilih merek tetangga. Dan dari sisi bisnis, vendor Jepang kini kelabakan. Toshiba dan Sharp rugi besar. Sony keteteran di industri televisi dan smartphone.

Menurut analisa pengamat ekonomi yang berbasis di Tokyo, Gerhard Fasol, raksasa elektronik Jepang gagap menghadapi revolusi digital. Vendor Jepang dulu tenar dengan membuat mesin elektronik yang kompleks, sebut saja televisi warna, radio, pemutar kaset, kulkas atau mesin cuci, termasuk Walkman.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Sony Walkman adalah contoh klasiknya. Tidak ada software di dalamnya, benar benar mekanis. Namun hari ini perusahaan elektronik membutuhkan model bisnis software yang sungguh berbeda," kata Gerhard yang detikINET kutip dari BBC.

"Jepang memiliki edukasi tinggi dan orang orang pandai, itu harusnya dimanfaatkan. Terkadang untuk bidang manufaktur tapi di kasus lain di bidang software. Dan software tak dipedulikan di Jepang," jelasnya.

Maka Walkman yang dulu begitu jaya tidak mampu menghadapi iPod, pemutar musik digital yang terhubung dengan software iTunes. Perkembangan teknologi digital juga memungkinkan pesaing dari luar Jepang menciptakan perangkat elektronik tanpa modal besar.

"Teknologi digital mengubah segalanya. Di industri televisi, itu artinya hanya dengan satu chip bisa diproduksi televisi besar kualitas tinggi. Semua bisa melakukannya. Itu mengapa pemain baru dari Korea dan China mendapat keuntungan," ucap Hiroaki Nakanishi, CEO Hitachi.

Hitachi membangun reputasi dengan teknologi terbaik. Namun persaingan berubah di mana sekarang, angin berpihak pada mereka yang kuat dalam strategi marketing dan iklan. Tak semata kehebatan teknologi. "Struktur industri berubah sekali. Kami tidak bisa menyesuaikan di lingkungan itu," katanya.

Itu sebabnya Hitachi memutuskan tidak lagi fokus menjual barang elektronik, tapi pada bidang yang lebih spesifik di mana keunggulan teknologi mereka masih kuat. Sebut saja pembangkit tenaga nuklir.

Kelemahan Jepang mungkin karena mereka terlalu fokus pada hardware. Vendor elektronik Jepang banyak menciptakan terobosan misalnya perangkat paling tipis atau paling kecil. Dan memang berkualitas. Namun mereka kadang melupakan soal desain atau kemudahan pemakaian.

"Perusahaan Jepang terlalu percaya diri soal kekuatan manufaktur dan teknologi kami. Tapi kami tidak melihat soal produk yang bagus dari sudut pandang konsumen," kata Presiden Panasonic Kazuhiro Tsuga beberapa waktu lalu.

(fyk/ash)







Hide Ads