"Kami sambut," jawab Shih pendek saat ditanya apakah Acer memikirkan kemungkinan perusahaannya diambil alih. Namun dia memperingatkan, siapa pun yang membelinya akan seperti mendapatkan 'cangkang kosong' dan rugi.
"Tim manajemen di Eropa dan Amerika Serikat biasanya sangat memperhatikan soal uang. CEO mereka bekerja untuk uang. Sedangkan di Taiwan, mereka lebih memperhatikan dari segi misi dan faktor emosional," jelasnya seperti dilansir Reuters, Jumat (28/8/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bukan tanpa sebab jika Shih mengeluarkan pernyataan yang cukup mengejutkan tersebut. Penjualan terus merosot dalam beberapa bulan terakhir, termasuk penurunan sebesar 33% pada Juli silam. Harga sahamnya turun hampir setengahnya sejak April silam.
Acer tercatat mengalami kerugian sebesar 2,89 miliar dolar Taiwan dalam enam bulan pertama di 2015. Kerugian juga dialami Acer pada 2011, 2012 dan 2013 di tengah terus melambatnya penjualan PC.
(rns/fyk)