Hal ini bermula dari pemberitaan yang menyebutkan Twitter dijual seharga USD 31 miliar. Kabar tersebut dimuat oleh sebuah situs yang mencatut nama Bloomberg. Gara-gara itu, saham Twitter langsung naik 8%.
Wajar jika publik tertipu dengan berita tersebut. Pasalnya, situs palsu itu sangat mirip dengan situs Bloomberg yang asli. Bahkan berita itu menggunakan nama salah satu reporter Blooomberg, Stephan Morris.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tak ada asap jika tak ada api. Meruaknya berita palsu ini sepertinya sengaja dibuat orang tak bertanggung jawab di tengah kondisi Twitter yang sedang kurang baik.
Seperti dilansir Reuters, Rabu (15/7/2015), Twitter tengah menjadi sorotan karena pertumbuhan penggunanya stagnan. Bulan lalu, CEO Dick Costolo mengumumkan pengunduran diri dari jabatannya. Untuk sementara waktu kedudukannya digantikan salah satu pendiri Twitter, Jack Dorsey. Selain itu, rumor akuisisi Twitter pun terus berhembus.
Ini bukan pertama kalinya saham Twitter dipengaruhi kesalahan internet. Pada April lalu, layanan data mining meretas laporan laba perusahaan Twitter. Parahnya, data tersebut bocor di Twitter pula. Akibatnya, saham Twitter anjlok sebesar 20%.
(rns/ash)