Kategori Berita
Daerah
Layanan
Detik Network
detikInet
Link Net Belum Tahu Mau Dilepas First Media

Link Net Belum Tahu Mau Dilepas First Media


Achmad Rouzni Noor II - detikInet

Jakarta - Desas-desus tentang rencana divestasi saham Link Net (LINK), anak usaha First Media (KBLV), akhirnya direspons oleh petingginya. Termasuk soal minat sang kompetitor yang ingin mengakuisisi demi menambah amunisi untuk ekspansi di ranah broadband dan multimedia.

Rumor tentang pelepasan unit bisnis ini tak dipungkiri. First Media sebagai induk, telah menawarkan Link Net ke sejumlah pihak melalui bank. Namun sayangnya, Link Net yang bakal dilepas, belum mendapat informasi.

"Kami sebagai objek yang mau dilepas belum mendapat update. Kami tidak tahu soal informasi itu, dan kami juga dapat info itu dari pemberitaan di media," kata Mico Kaliki, Division Head Marketing Communication, PR & Branding Link Net First Media saat dikonfirmasi detikINET, Kamis (28/5/2015).

Dari pemberitaan di media dikatakan bahwa rencana divestasi saham anak usaha ini belum mendapatkan titik terang. Pasalnya, First Media yang berada di bawah naungan Lippo Grup dikabarkan menawarkan harga cukup premium terhadap penjualan saham LINK. Harga tinggi inilah yang membuat proses penjualan berjalan alot.

Kabarnya, Lippo membuka harga penjualan sebesar USD 1 miliar atau sekitar Rp 13 triliun. First Media kabarnya juga tengah mencari beberapa investor strategis yang berminat untuk mengakuisisi saham Link Net.

Untuk memuluskan aksi korporasi itu, Lippo Grup katanya juga sudah menunjuk Credit Suisse dan Citi Grup sebagai advisor.

Salah satu perusahaan yang tertarik konon adalah MNC Grup. Bahkan katanya telah melakukan negosiasi harga. Meski menjajaki beberapa investor strategis, MNC digadang-gadang menjadi calon pembeli terkuat karena punya dana kas yang besar. Namun, sampai saat ini belum terjadi kesepakatan harga dengan MNC.

MNC tertarik menguasai Link Net karena ingin memperbesar bisnis broadband MNC Playy yang menjadi bisnis baru MNC Grup. Jika berhasil mengakuisisi Link Net, MNC Grup akan melakukan sinergi dengan televisi berbayar (pay TV) miliknya.

Dengan begitu, MNC bisa makin mendominasi pangsa pasar di bisnis tersebut. Saat ini, saham LINK dikendalikan oleh KBLV yang menggenggam 33,8% saham LINK. Pada November 2014 lalu, KBLV dan CVC melakukan divestasi atas 11% saham LINK dan meraup dana segar Rp 4,2 triliun.

KBLV yang saat itu memiliki 41 persen saham LINK melepas 226,67 juta saham atau 7,45% saham di harga Rp 6.000 per saham. KBLV melepas saham tersebut kepada tiga bank, yakni Credit Suisse (Singapore) Limited, Goldman Sachs International, dan CIMB Bank Berhad Cabang Labuan Offshore.

Ketiganya menjual kembali saham itu kepada investor institusi intenasional. Dari aksi korporasi itu, KBLV resmi mengantongi dana sebesar Rp 1,36 triliun. Dana itu digunakan KBLV untuk ekspansi fiber optik dan bayar utang.

Sementara pemegang saham Link Net lainnya, CVC Capital Partners Ltd yang melepas 473,13 juta saham atau sekitar 15,55% saham di harga yang sama. Dengan begitu, CVC mereguk dana hingga Rp 2,83 triliun.

Saat ini, total kapitalisasi pasar Link Net di Bursa Efek Indonesia (BEI) hanya Rp 16,88 triliun. Namun, kinerjanya sudah bertumbuh beberapa kali lipat. Tahun ini, Link Net menargetkan pendapatan bisa naik mencapai Rp 2,73 triliun. Nilai ini tumbuh 28% dari raihan 2014 yang mencapai Rp 2,13 triliun.

Dengan target tersebut, artinya pendapatan pada kuartal pertama 2015 yang mencapai Rp 599,94 miliar baru mencapai 21,98% dari target pendapatannya. Sementara, untuk laba bersih tahun ini diharapkan bisa tetap tumbuh 25%-28% dari tahun lalu.

Lippo Grup berniat mendivestasi Link Net lantaran ingin berfokus pada bisnis utamanya di bidang properti. Setelah tumbuh lebih dari empat kali lipat, Lippo merasa sudah saatnya melepas anak usahanya tersebut. Penjualan itu juga dikabarkan didukung oleh pemegang saham Link Net lainnya, CVC Capital Partners Ltd.

(Achmad Rouzni Noor II/Achmad Rouzni Noor II)





Hide Ads