Indonesia sebelumnya sering kali disebut sebagai 'anak tiri' oleh Apple. Contoh sederhananya adalah, produk terbaru Apple selalu telat sampai ke Indonesia, sampai berbulan-bulan lamanya.
Namun kini, harapan sebagai pasar yang diprioritaskan mulai mencuat setelah Apple membuka kantornya di Jakarta. Lantas, apa yang membuat Apple akhirnya kesengsem dengan pasar Indonesia?
Pertama, jelas populasi yang sangat besar merupakan pasar yang menggiurkan bagi vendor gadget manapun. Indonesia cuma kalah dari China, India dan Amerika Serikat dari segi jumlah penduduk.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kalangan menengah di Indonesia diprediksikan bakal semakin bertambah. Sehingga kebutuhan terhadap gadget-gadget premium yang dibuat oleh Apple pastinya juga bakal punya peminat baru.
Terakhir, adalah era digital lifestyle di Indonesia yang semakin meluas. Hal ini bisa kita lihat dari keseharian, entah itu di sekolah, kantor, mal, jalan sampai rumah. Dimana Apple tentunya punya peran untuk mengisi perubahan ini.
Meski terbilang jarang dijadikan tuan rumah untuk acara-acara regional dan dunia, Indonesia harus diakui masih begitu diandalkan para vendor ponsel dan komputer untuk jadi penyelamat bisnisnya.
Sebut saja BlackBerry, dimana basis pengguna terbesar ponsel asal Kanada itu masih berasal dari Indonesia. Tak ayal, BlackBerry sampai bela-belain meluncurkan BlackBerry Z3 Jakarta Edition untuk memikat pengguna ponsel Tanah Air.
Termasuk untuk memperkaya konten dan layanan di perangkat BlackBerry dengan hal-hal yang berbau lokal. Alasannya sama, untuk lebih merakyat dan lebih diterima pasar Indonesia.
Bagaimana dengan Apple? Sulit tentunya untuk mengharapkan, perusahaan warisan Steve Jobs itu untuk membuat perangkat murah layaknya BlackBerry.
Pun demikian, dengan kepastian hadirnya PT Apple Indonesia -- rasanya masih wajar jika nantinya berharap pasar Indonesia bakal lebih diperhatikan oleh perusahaan berlogo apel groak tersebut.
(ash/fyk)