Dalam acara yang diselenggarakan oleh salah satu perusahaan IT untuk para MSP (Managed Service Provider - Penyedia Layanan Terkelola) di akhir bulan November lalu menyisakan harapan baru. Acara tersebut berhasil mempertemukan semua CEO dan Presiden Direktur dari beragam perusahaan MSP yang ada dalam daftar undangan. Hal ini mengesankan pentingnya acara ini bagi mereka, dan adanya masukan serta ide untuk mengembangkan bisnis MSP mereka di masa mendatang.
Kesan itu makin terasa melalui perbincangan antara penulis dengan para pengusaha MSP selama acara. Secara umum mereka berada pada posisi di antara himpitan persaingan yang makin keras, tuntutan pelanggan yang makin tinggi, dan investasi yang belum impas (balik modal).
Mereka pun memiliki satu keinginan sama yakni 'menyenangkan' dan melayani pelanggan sekaligus melindungi investasi yang sudah mereka tanamkan dan tengah berjalan. Oleh karena itu, MSP ingin mendapatkan ide bagaimana agar dapat tumbuh dan berkembang dengan tetap menguntungkan sekaligus.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
MSP dan Transformasi
MSP saat ini dituntut untuk mengubah pola dari penjualan infrastruktur IT bersifat komoditi dan basic managed IT untuk menjadi lebih berani menjelajah area yang memiliki nilai bisnis yang lebih tinggi, bukan sekadar supporting system. Area di mana bisnis inovasi para pelanggan kerap dilakukan di luar IT -- seperti marketing, pengelolaan sumber daya manusia, keuangan, dan lain-lain -- yang memiliki nilai tambah tinggi ke bisnis sebuah perusahaan.
Untuk itu, MSP berusaha melebarkan layanannya di area aktifitas bisnis perusahaan. Sebagaimana kita ketahui bersama, aktifitas dalam bisnis terbagi menjadi dua; horisontal dan vertikal. Horisontal adalah aktifitas terkait fungsi umum dan relatif sama untuk seluruh perusahaan, seperti perekrutan, payroll, dan lain sebagainya.
Sedangkan vertikal terkait aktiftas yang spesifik dibutuhkan oleh sebuah perusahaan tergantung industrinya, seperti penjualan, pengoperasian lini manufaktur, produk ke pasar, dan lain-lain. Di dua model bisnis aktifitas itulah, MSP umumnya mengembangkan layanannya.
Di area vertikal atau spesifik industri, MSP memberikan layanan yang difokuskan sesuai keahlian dan latar belakang yang MSP miliki, seperti industri kesehatan, keuangan, manufaktur, gaming, dan banyak lagi.
Biasanya MSP model ini lahir dari latar belakang perusahaan yang notabenenya anak perusahaan sebuah holding company yang kuat dan fokus serta memiliki spesialisasi pada industri tertentu, seperti manufaktur, retail, dan lain sebagainya.
Banyak keuntungan didapat dengan model fokus bisnis vertikal seperti ini. Banyak MSP dapat bertahan lama dan menjadikannya competitive differentiation dengan speasialisasi ini. Pertanyaannya untuk berapa lama?
Untuk itu, banyak MSP mulai melirik ke area kedua, yakni area horisontal atau fungsional untuk lebih berkembang. Umumnya MSP bermitra dengan penyedia aplikasi fungsional perusahaan - seperti payroll, finansial, supply chain, dll - lalu dibundling dengan investasi IT infrastruktur yang MSP miliki.
Tatkala area spesialisasi (vertikal) "dipaksa" untuk menghadirkan layanan di luar kemampuannya (horosontal), biasanya itu tak akan bertahan lama. Pun layanan yang diberikannya seringkali tidak bernilai tinggi bagi sebuah perusahaan. Tinggal masalah waktu saja yang berbicara, hingga para pesaing tiba dan berlomba.
Nilai tinggi layanan diberikan bila MSP mampu menyasar area proses bisnis pelanggan. Bukan sekedar memberikan layanan dengan pola bisnis model yang mampu 'mencukur' biaya dan lebih ekonomis, melainkan mampu memberikan kontribusi inovasi untuk mereka berkompetisi. Dengan begitu, MSP akan memiliki nilai lebih di mata pelanggan.
Lima Langkah Transformasi MSP
Lantas apa yang MSP lakukan agar tetap bertahan di jalur kompetisi? Apa yang perlu dipersiapkan untuk menuju Next Generation MSP? Kesan yang tertangkap oleh penulis adalah MSP siap untuk melakukan transformasi bisnisnya untuk menyesuaikan keinginan pelanggan yang berubah.
Bentuk layanan yang berbasiskan on-demand, fleksibel, dinamis, scalable dan ekonomis. Area yang yang menjadi targetnya pun beragam seperti marketing, human capital management, keuangan, industri kreatif dan banyak lagi
Untuk saat ini, inilah lima langkah cepat bagi MSP memulai proses transformasi menjadi MSP Generasi Baru, yakni;
1. Lakukan penilaian (assessment) perbedaan yang dimiliki (value differentiator) oleh MSP ketimbang yang lainnya (pesaing). Lalu telusuri pasokan sumber keuntungan terbesar yang diperoleh selama ini dan ajukan pertanyaan. "Akankah Anda akan akan melakukan kompetisi harga di beberapa tahun mendatang dan harus mulai melakukan perang harga saat ini?" Tabuhkan genderang perang.
2. Ubah lini layanan Anda saat ini dengan menerapkan teknologi Cloud. Membangun layanan Managed storage, Disaster Recovery atau Business Continuity adalah contoh mudahnya. Enggan untuk berinvestasi? Manfaatkan layanan SaaS agar dapat disesuaikan dengan cash flow Anda. Pelanggan Anda sudah siap dan ingin model Cloud, bagaimana dengan Anda?
3. Mulailah melakukan transformasi dengan meminta tim sales Anda untuk menawarkan solusi Cloud ke pembeli baru (bukan yang umumnya saat ini Anda biasa tawarkan - IT Manager) seperti para eksekutif CMO, CFO dan CEO bahkan CPO (Procurement). Para eksekutif inilah yang saat ini mengontrol 50 persen pengeluaran dana IT perusahaan.
Tawarkan produk atau layanan yang melengkapi service catalog yang MSP kini miliki serta minim resiko. Pilih model bisnis yang aman; seperti white-labelling, build as you grow and pay as you use (MSP) model dan lain-lain.
4. Investasikan dana untuk penerapan teknologi Cloud di tempat Anda. Investasikan sistim platform dan storage generasi mendatang yang mampu membantu mengubah pemenuhan kebutuhan aplikasi dan layanan baru dari pelanggan dengan teknologi Cloud dalam hitungan menit, bukan hari.
Pastikan bahwa teknologi Cloud yang diimplementasi di tempat Anda berbasiskan pada software sehingga dapat menjadi lebih fleksibel dan otomatis, menyesuaikan pengeluaran Anda sesuai dengan IT workloads pelanggan dan siklus bisnisnya.
5. Bermitralah dengan ISV (Independent Software Vendor). Bayangkan banyaknya perubahan, kerumitan sekaligus kesulitan yang ISV harus hadapi untuk setiap kebutuhan konfigurasi dan instalasi on-premise (di site pelanggan). ISV akan selalu butuh bantuan, dalam hal ini MSP umumnya menjadi penasihat terpercaya ISV untuk proses tersebut.
Sebagai ganjarannya, MSP akan menjadi lebih 'berbeda' dan bernilai dengan tambahan pelanggan dari yang ISV miliki selain tentunya aliran pemasukan dari layanan yang MSP berikan kepada ISV.
Tapi jangan berhenti sampai di sana. Tetaplah berinovasi dan belajar bagaimana MSP lain berkembang dengan tentunya mengakomodasi keinginan pelanggan saat ini, yakni layanan yang bersifat on-demand, fleksibel, dinamis, scalable dan ekonomis.
Apa yang dilakukan oleh IBM dalam upaya untuk selalu menyediakan layanan yang bernilai lebih tinggi, mungkin bisa menjadi pembelajaran bagi MSP. IBM dapat dikategorikan sebagai salah satu MSP terbesar saat ini. IBM berhasil menggeserkan (transformasi) visi bisnisnya ke area yang memiliki nilai lebih tinggi bagi perusahaan. Transformasi yang dilakukan baik dari sisi technical model maupun business model dalam mengembangkan produknya.
Di awal berdirinya, IBM melakukan pergeseran usaha dari hanya menjual timbangan (weight scale) menjadi menjual mesin hitung (tabulating machines) atau yang belum lama ini dari menjual PC (personal computing) menjadi Enterprise Computing.
Dan yang mutakhir adalah bertransformasi melalui pengeluaran produk serta business model yang menunjang baik bagi MSP dan pelanggannya untuk menerapkan Cloud baik secara teknikal (berupa expert integrated system product - yang dapat build up as you grow) maupun komersial (berupa penjualan lisensi software yang bersifat pay as you use). Poinnya adalah komitmen untuk berubah dan berevolusi inilah yang meski diadopsi dan dijalankan oleh para MSP.
Β
*) Penulis, Kurnia Wahyudi adalah pengamat perkembangan MSP Indonesia dan saat ini menjabat sebagai Country Leader Cloud Computing IBM Indonesia.
(ash/ash)