Thorsten Heins boleh saja terbilang sukses saat menjadi COO (Chief Operating Officer) BlackBerry, namun ketika mengambil alih posisi nakhoda alias CEO (Chief Executive Officer), kapal besar BlackBerry tak sanggup dibawanya melalui ombak besar. Sampai akhirnya, Heins dipaksa menepi.
Tugas berat memang telah ditanggung pria asal Jerman ini saat pertama kali menduduki kursi CEO BlackBerry. Misi utamanya, mengembalikan kejayaan BlackBerry yang kala itu mulai mengalami kemunduran akibat terjangan smartphone Android dan iOS.
Meski layanan BlackBerry Messenger (BBM) masih kuat memberi daya tarik, himpitan yang dilakukan oleh smarthone Android dan iOS nyatanya membuat petinggi BlackBerry ini tak dapat menikmati tidurnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kelebihannya terletak pada user interface yang tampil layaknya Android dan iOS namun tanpa kehadiran tombol perintah. Jadi pengguna hanya perlu menggeser-geser tampilan layar untuk mengakses satu aplikasi ke aplikasi lainnya.
Namun justru di sinilah salah satu masa suram yang harus dilalui Heins, di balik besarnya harapan para penggila BlackBerry akan kehadiran BlackBerry 10, sistem operasi anyar tersebut justru kembali molor kehadirannya hingga menjejak tahun 2013.
Sesuai prediksi banyak analis, kiprah BlackBerry 10 pun tidak sesuai ekpektasi. Ekosistem yang masih jauh di bawah Android dan iOS diduga kuat sebagai faktor terbesar menurunnya minat terhadap produk besutan perusahaan Kanada itu.
Meski akhirnya BlackBerry berusaha menggaet pengguna smartphone dengan meluncurkan smartphone qwerty khasnya lewat BlackBerry Q10 dan Q5, nyatanya hal tersebut belum mampu melepaskannya dari keterpurukan.
Di balik kemerosotan yang sedang dialaminya, berita mengejutkan justru diumumkan oleh BlackBerry. Layanan BBM -- yang dianggap sebagai senjata terakhir BlackBerry -- diumumkan bakal hadir untuk lintas platform. Artinya, BBM tidak akan lagi eksklusif bagi perangkat BlackBerry. Para pesaingnya juga bisa menggunakan aplikasi pesan instan ini.
Belum jelas mengapa akhirnya BlackBerry memutuskan hal tersebut, namun sejumlah analis menyebutkan hal itu sebagai upaya bisnis alternatif BlackBerry mengantisipasi kejatuhan yang tengah dialaminya.
Ke depannya dikatakan BlackBerry akan memonetisasi aplikasi tersebut lewat berbagai layanan eksklusif yang bakal ditawarkannya semisal BlackBerry Channel.
Bahkan tersebar rumor, BlackBerry berniat menjadikan layanan pesan instan BBM sebagai perusahaan mandiri terpisah dari BlackBerry saat ini. Upaya βpelarianβ BlackBerry ini pun sejalan dengan rencananya yang mulai melirik pembeli yang berminat mengakuisisinya.
Namun nyatanya niat BlackBerry menghadirkan BBM lintas platform tidak berjalan mulus. Setelah diumumkan, BBM lintas platform justru mengalami masalah serius yang berujung pada penundaan yang lumayan lama.
Di sini, kerentanan BlackBerry kian kentara. Banyak perusahaan besar yang dikabarkan meminatinya -- paling serius Lenovo -- tetapi akhirnya diintervensi oleh pemerintah Kanada yang tidak setuju. Di waktu yang tidak jauh perusahaan finansial FairFax pun mengumumkan keseriusannya mengakusisi BlackBerry.
Di balik deretam anomali tersebut, Thorsten Heins yang dianggap gagal pun akhirnya didepak. Adapun penggantinya adalah John Chen yang selain menjabat sebagai CEO, juga akan menduduki jabatan sebagai Executive Chair Dewan Direksi BlackBerry.
Tentunya beban besar kini berada di pundak CEO baru BlackBerry tersebut. Belum jelas apa roadmap yang dimilikinya untuk BlackBerry, namun pastinya tantangan besar sudah ada di hadapannya untuk menentukan masa depan Blackberry sehingga tak kembali lagi terjadi anomali.
Β
Artikel Terkait:
- 5 'Dosa Besar' Heins Sebelum Didepak BlackBerry
- FotoINET: Perpisahan Kontroversial CEO BlackBerry
- Mengapa BlackBerry 10 Gagal Saingi Android & iPhone?