Dalam acara IBM Enterprise 2013, raksasa bisnis teknologi korporasi global ini memaparkan, banyak uang yang sudah dihamburkan oleh perusahaan untuk biaya pengadaan IT, pengelolaannya, hingga pengadaan software untuk mengoperasikannya.
Pada 1996 saja, seluruh perusahaan global telah menghabiskan USD 100 miliar untuk belanja IT seperti membeli server baru (63%), server managemen dan biaya admin (29%), serta biaya energi dan mesin pendinginnya (8%).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tujuh tahun kemudian, atau di 2013 saat ini, biayanya melonjak hampir dua kali lipat. Diperkirakan biaya TI ini akan naik jadi USD 248 miliar, dimana 20% untuk belanja server baru, 68% untuk server managemen dan biaya admin, 12% untuk biaya power & cooling.
Tak cuma investasi perangkat keras IT, dari sisi peningkatan perangkat lunak juga tumbuh tak kalah drastis. Dari tahun ke tahun tercatat ada pertumbuhan kumulatif yang sangat siginifikan untuk investasi software, baik yang diproduksi sendiri atau melalui pihak ketiga.
Di 1995, nilai kumulatif investasi software tercatat USD 1,5 triliun, dan biaya belanja software per tahun USD 380 miliar. Lima tahun kemudian, di tahun 2000, nilai kumulatif investasi software naik menjadi USD 2,6 triliun, dengan biaya belanja software per tahun USD 480 miliar.
Kemudian lima tahun berikutnya lagi, di 2005, nilai kumulatif investasi software menjadi USD 3,3 triliun, dengan biaya belanja software per tahun USD 550 miliar. Sementara di 2010, nilai kumulatif investasi software melesat jadi USD 4,5 triliun, dengan biaya belanja software per tahun USD 690 miliar.
IBM juga mencatat, sejak tahun 2000 hingga 2010, server telah tumbuh enam kali lipat, storage tumbuh 69 kali lipat, dan virtual machine tumbuh 42% per tahun. Khusus untuk server, tercatat ada 32,6 juta server beroperasi di seluruh dunia saat ini.
"Namun sayangnya, 85% dari kapasitas komputer ternyata idle (menganggur) dan 15% dari server itu beroperasi 24/7 tapi tidak digunakan secara aktif sehari-hari," kata IBM Senior Vice President, Group Executive IBM Software & Systems, Steve Mills, dalam acara yang berlangsung di Orlando, AS.
Keberadaan data center juga telah melipatgandakan penggunaan energi dalam lima tahun terakhir, dan diproyeksi ada peningkatan lagi sekitar 18% untuk biaya energi data center. Hal itu dikarenakan ada pertumbuhan 42% untuk perangkat yang terhubung ke internet setiap tahunnya, sehingga di 2017 nanti diperkirakan ada 1 triliun perangkat yang terkoneksi internet.
"Meningkatnya permintaan pada IT bikin data center terkapar dan membuat biaya jadi tak menentu.Misalnya, biaya untuk mengelola penyimpanan yang sangat menghabiskan budget IT. Belum lagi duplikasi data membuat kapasitas storage dan processing jadi sia-sia," tandas Mills dalam acara yang juga dihadiri detikINET.
(rou/fyk)