Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Butuh Minimal Rp 72 Triliun Bangun 'Pabrik iPad' di Indonesia

Butuh Minimal Rp 72 Triliun Bangun 'Pabrik iPad' di Indonesia


- detikInet

New iPad (apple)
Jakarta - Pemerintah sedang merayu Foxconn Technolgy Group untuk membangun pabrik di Indonesia. Biaya yang dibutuhkan sekitar US$ 8-10 miliar (Rp 72-90 triliun).

"Saya termasuk menteri yang diminta untuk mem-follow up untuk investasi besar itu, sebab itu investasinya bisa mencapai US$ 8-10 miliar," kata Menteri Perindustrian MS Hidayat saat ditemui di kantornya, Jalan Gatot Subroto, Jumat (20/7/2012).

Saking besarnya investasi asing itu, pemerintah tak mau sampai lepas begitu saja apalagi sampai gagal. Maka dari itu, Hidayat rela mendatangi Foxconn di markasnya, Taiwan, bersama Dirjen Unggulan Berbasis Teknologi Tinggi Budi Darmadi dan Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sesuai dengan nilai investasinya yang besar, lahan yang dibutuhkan juga sangat besar. Kata Hidayat, butuh sekitar 1.000 hektar lahan lengkap dengan infrastruktur penunjangnya.

"Mereka membutuhkan lahan sekitar 1.000 hektar. Untuk lahan 1.000 hektar dan infrastruktur yang lengkap itu sulit untuk di luar Jawa," katanya.

Hidayat juga optimistis investasi itu bisa terealisasi tahun ini. Lebih jauh lagi, pemerintah bermimpi Foxconn bisa membangun tiruan Silicon Valley di dalam negeri.

"Harus tahun ini, sesegera mungkin. Untuk tempatnya saya sudah tahu tapi nggak bisa menyebutkan," ujarnya.

Seperti diketahui, Foxconn adalah perusahaan manufaktur yang berasal dari Taiwan yang memproduksi komponen-komponen elektronik untuk beberapa merk terkenal seperti Apple, Nokia, Hewlett-Packard, dan lainnya.

Salah satu produksinya adalah iPad. Foxconn sendiri telah berinvestasi di Brasil dan berencana untuk menambah lima fasilitas produksi baru di negara itu.

Mantan ketua Kadin itu juga akan menyambangi Foxconn demi mempercepat investasi asing tersebut bersama Dirjen Unggulan Berbasis Teknologi Tinggi Budi Darmadi dan Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) ke Taiwan.

(/)






Hide Ads