Asep Tjahyadi, Direktur Managed Service, PGS Presdir Telkom Sigma, melihat potensi mobile cloud untuk pasar enterprise cukup besar di Indonesia, khususnya perusahaan yang memiliki channel distribusi dalam jumlah yang cukup banyak.
"Contohnya, seperti perusahaan distribusi obat dan perusahaan telekomunikasi yang penjualan pulsanya dilakukan di gerai-gerai yang tersebar di seluruh wilayah indonesia," paparnya di Jakarta, Selasa (29/5/2012).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sejak dikembangkan Sigma akhir tahun lalu, layanan yang dibungkus dalam brand besar Telkom Cloud ini sudah digunakan oleh Indofarma dan Telkomsel.
MForce dipilih oleh kedua perusahaan besar itu karena memungkinkan kantor pusat untuk memonitor aktivitas canvaser serta tenaga pemasaran dalam melakukan distribusi produk ataupun penjualan.
"Cost efficiency serta realtime data capture akan di-deliver oleh solusi ini. Selain itu, solusi ini memungkin kantor pusat memantau produktivitas dari gerai atau wilayah pemasaran," papar Asep lebih lanjut.
Langkah bisnis yang dilakukan Sigma memang mendapatkan dukungan penuh dari Telkom, induk perusahaannya. Direktur IT Solution & Strategic Portfolio Telkom Indra Utoyo mengungkapkan, Sigma mengalami pertumbuhan yang sangat pesat sejak 100% dimiliki Telkom melalui anak usaha Multimedia Nusantara (Metra) pada Agustus 2010.
"Terbukti dengan pertumbuhan revenue yang hampir mencapai 100% dari target serta berbagai ekspansi bisnis yang didukung sepenuhnya oleh Telkom. Sejak dibeli dulu, kami telah mengeluarkan dana RP 400 miliar untuk mendukung Sigma," ungkapnya.
Telkom juga telah menggelontorkan dana segar Rp 700 miliar untuk membangun tambahan dua data center bagi Sigma untuk menguasai pasar bisnis cloud computing di Indonesia.
Selain itu, BUMN telekomunikasi itu juga akan mengalokasikan dana USD 10 juta untuk melanjutkan pengembangan layanan cloud computing. Besaran investasi untuk layanan ini akan disesuaikan dengan tren bisnis setiap tahunnya.
Dengan investasi besar yang sudah dikeluarkan, wajar saja jika Sigma dipatok untuk meraih omzet pendapatan Rp 750 miliar atau tumbuh 29% dari 2011 yang sebesar Rp 578 miliar.
Target itu setiap tahunnya terus meningkat. Di 2014 nanti, Sigma ditargetkan bisa memiliki omzet Rp 1 triliun dengan margin harus selalu di atas rata-rata industri.
(rou/ash)