Menurut Didie W Soewondho, Wakil Ketua Bidang IT, Telekomunikasi, Penyiaran, Ristek Kadin Indonesia, kepastian soal insentif ini penting lantaran menjadi pertimbangan penting para investor yang masih enggan disebutkan namanya tersebut.
Pertama, adalah terkait jaminan pasar. "Ini untuk menjamin bahwa jangan sampai ketika mereka sudah membangun pabrik di Indonesia namun tak bisa jualan, karena tak ada pasarnya," tukas Didie kepada detikINET.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ketiga yang mungkin dipilih adalah pengamanan pasar. Maksudnya mengamankan dari barang-barang impor," lanjut Didie.
Pun demikian, Didie menegaskan, jika ketiga 'rayuan' tersebut masih dalam batas pertimbangan. Adapun yang memutuskan tetap di tangan pemerintah, Kadin hanya sebatas memberi rekomendasi.
"Kita dari Kadin sebagai kumpulan dari pengusaha hanya sebatas mengajak mereka. Setelah permintaan (insentif) mereka (investor-red.) itu ditentukan, baru kita ajukan ke pemerintah," jelasnya.
Sebelumnya, Indonesia dilirik lebih dari satu investor asing yang ingin mencoba peruntungan membangun basis pabrik tablet PC-nya. Jika ditanya soal tertarik, mereka mengaku serius. Tinggal menjajaki beberapa kemungkinan lagi sebelum rencana tersebut gol.
"Mereka (investor tersebut-red.) berminat untuk memindahkan fasilitas pabrikasinya ke Indonesia. Ini dalam rangka selain pembukaan selain pembuatan komputer biasa, juga tablet PC," tukas Didie.
Jika rencana ini terealisasi, pabrik tersebut diperkirakan akan memproduksi sekitar 2 juta unit tablet PC per tahun dengan nilai investasi di rentang USD 30-40 juta.
"Yang pasti mereka mengaku sangat tertarik. Statusnya sekarang menyiapkan feasibility study, dari situ akan keluar rencana projected financial," pungkasnya.
(ash/fyk)