Menurut Avi Yunawan, VAS Marketing Manager Lintasarta, industri Multifinance dapat memanfaatkan berbagai kemajuan ICT seperti Corporate Mailer, Managed Service, Metro Ethernet, IPVPN, Mobile Connectivity, Frame Relay, Internet, SMS Broadcast, SMS Interactive, Contact Center, Cloud Computing, Data Center dan DRC.
Semua teknologi tersebut dapat di-outsource-kan kepada IT outsourcing partner. "Cost reduction adalah faktor utama perusahaan melakukan outsourcing," jelasnya, dalam keterangan tertulis yang dikutip detikINET, Jumat (25/11/2011).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lintasarta sendiri juga memiliki jasa cloud computing dengan opsi layanan yang terdiri atas Private Cloud yang menawarkan eksklusivitas dengan on-demand cloud service, Hybrid Cloud yang menawarkan fleksibilitas layanan atau Public Cloud yang memungkinan IaaS hingga aplikasi bisnis dapat diakses melalui jaringan internet dalam bentuk service on demand.
Contoh lain solusi ICT yang dijelaskan Avi untuk industri Multifinance adalah credit approval online menggunakan teknologi SMS Broadcast dan SMS Interactive. Teknologi ini diklaim dapat mempermudah sekaligus mempercepat birokrasi administrasi persetujuan pengajuan kredit dalam waktu kurang dari 1 jam.
Wiwie Kurnia, Ketua Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI) menambahkan, industri Multifinance di tahun 2012 memiliki peluang besar untuk terus maju karena tiga faktor utama.
Pertama, kemampuan Indonesia bertahan di tengah badai krisis Amerika dan Eropa dengan perkiraan pertumbuhan ekonomi Indonesia di tahun 2012 sebesar 6,3% dan tingkat inflasi sebesar 5,7%.
Kedua, penduduk Indonesia yang berada pada usia produktif (20-50 tahun) memiliki jumlah yang sangat besar, ini merupakan pasar bagi perusahaan pembiayaan. Terakhir, kurangnya infrastruktur angkutan massal, mengakibatkan masyarakat lebih memilih untuk membeli mobil dan motor daripada menggunakan angkutan umum.
"Industri Multifnance di tahun 2012 diprediksi mengalami pertumbuhan hampir mencapai 20% dari sisi total aset. Sementara aset multifinance 2012 akan mencapai Rp 330 triliun sampai Rp 350 triliun," ungkap Wiwie.
(ash/ash)