Diakui CSL, kompetisi industri ponsel di Tanah air saat ini sudah semakin ketat. Ponsel merek lokal pun tengah bersaing dengan ponsel branded yang sudah lebih dulu eksis.
CSL sendiri mengalokasikan dana USD 100 juta atau sekitar hampir Rp 1 triliun hanya untuk pembangunan infrastruktur. Salah satunya adalah gedung baru di jalan Biak, Roxy, Jakarta Pusat. Selain itu juga sudah dibangun gedung baru di bilangan Cempaka Mas dan di berbagai wilayah Jakarta lainnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Investasi lumayan besar ini dikatakan sekaligus membuktikan bahwa mereka memang fokus menggarap pasar ponsel Indonesia yang semakin seksi.
Di sisi lain, tim CSL menilai jika tidak ada bentuk konkret komitmen dan strategi bisnis yang mujarab, beberapa merek ponsel lokal lain akan semakin sulit untuk bertahan lama.
Hal tersebut terlihat dari investasi dan layanan mereka yang terkesan setengah-setengah dan hanya menjalankan bisnis hit and run yang dinilai akan lebih banyak merugikan sisi konsumen.
Hingga akhirnya akan terjadi seleksi alam untuk merek-merek karbitan, karena masyarakat juga sudah pandai memilih sebuah merek dan tidak tergiur hanya dengan promo harga murah tapi kualitas dan service terabaikan.
"Gambaran mengenai masa depan merek lokal seperti itu, biar orang lain yang menilai. Namun dengan investasi yang terus kami lakukan, membutikan bahwa kami tidak seperti merek-merek lainnya seperti apa yang digambarkan banyak orang tentang merek ponsel lokal," pungkas Leonard.
(ash/rns)