Demikian disampaikan oleh Wakil Ketua Kadin Bidang Telekomunikasi Anindya Bakrie saat ditemui di kantor Kadin, Senin (6/4/2009). Menurut Anindya, layanan Value Added Service (VAS) seperti mobile banking mencakup 6-10 persen pendapatan operator per tahun.
"Selama 2 sampai 3 tahun terakhir sudah banyak service lain. Misalnya ring back tone, transaksi banking. Sekarang saja, namanya itu value added service, jumlahnya antara 6-10%. kalau kita bicara 6% saja sudah Rp 6 trilun," ujarnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Artinya apabila tadinya uang dari dompet masuk ke telpon, Rp 100 triliun, dari Rp 100 triliun bisa pakai telepon, SMS, maupun VAS, mobile banking," jelasnya.
Sarana ini menurut Anindya merupakan sarana transfer uang bolak-balik, yang terbilang dan cepat lebih kuat teknologinya dibandingkan dengan perbankan.Β
Bank Indonesia sebagai regulator keuangan pun dinilainya harus melihat hal ini sebagai fenomena berkembangnya layanan sektor perbankan. "Dari pulsa ke uang, itu yang lagi dirembukkan dari orang-orang di BI," jelasnya.
Selain itu, mengenai keamanan diakui Anindya harus ditingkatkan terus. Apalagi mengingat potensi adanya masalah atau kejahatan.
(hen/wsh)