Media sosial yang sedang digandrungi belakangan ini punya beragam manfaat, terutama menghubungkan satu manusia dengan yang lain. Kaum difabel pun menuai manfaat besar dari keberadaan media sosial seperti Facebook dan Twitter.
"Saya pada usia 10 tahun tidak bisa mendengar. Karena itu, saya menjadi visual sehingga mulai menyukai media sosial seperti Twitter. Saya bisa menggunakannya untuk sharing," ucap Angkie Yudistia, penulis 'Perempuan Tuna Rungu Menembus Batas' pada acara Ngopi Bareng detikINET.
Lebih lanjut, Angkie menjelaskan bahwa media sosial menjadi sarana ampuh bagi kaum difabel seperti dirinya untuk mencari teman dan memberi kesadaran bahwa mereka tidak sendirian. Bahwa kaum difabel pun sama seperti orang biasa.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Angkie mengaku mempunyai banyak teman kaum difabel di media sosial dan juga dari kalangan orang biasa. Ia pun berusaha menjaga pertemanan tersebut dengan terus berkomunikasi.
Selain Twitter, Facebook juga menjadi media sosial kesukaan kaum difabel. Malah situs jejaring sosial ini cenderung lebih disukai karena banyak hal visual yang bisa dilihat dan dibagi, seperti foto dan sebagainya.
"Teman-teman juga menggunakan Facebook untuk mencari informasi," imbuh wanita berparas cantik ini.
Β
Ngopi Bareng detikINET adalah acara diskusi santai bulanan yang diselenggarakan detikINET. Acara kali ini didukung oleh Coffee Bean & Tea Leaf.
(fyk/sha)