http://us.images.detik.com/logo_tematik/logodetikinet.png
 
 

Para Capres pun Dipepet Twitter

Ardhi Suryadhi - detikinet
Rabu, 04/06/2014 14:57 WIB
Para Capres pun Dipepet Twitter Jokowi (detikcom)
Jakarta - Ada gula, ada semut. Peribahasa ini mungkin bisa menggambarkan kondisi ranah politik Indonesia sekarang ini.

Contohnya saja terkait kunjungan 'master politik' Twitter ke Indonesia, Peter Greenberger. Kedatangan pria dengan jabatan mentereng sebagai Direktur Strategi Politik Global Twitter ini tentu punya maksud. Terlebih jika melihat konstelasi politik Indonesia yang semakin hari semakin dinamis.

Selain terkait dunia politik, kunjungan bos Twitter ke Indonesia tidak terlepas dari posisi kita sebagai salah satu pasar pengguna Twitter terbesar di dunia, mencapai hampir 20 juta orang pengguna aktif.

Disebutkan, di antara basis pengguna aktif yang besar ini adalah para pemilih pemula, yaitu generasi muda berkarakter kritis, terbiasa dengan media digital dan diyakini tidak mudah dipengaruhi oleh iklan atau money politics.

Jumlah pemilih pemula dan pemilih muda di Indonesia diprediksi mencapai hampir 30% dari total pemilih di 2014 atau sekitar 52 juta orang.

Twitter pun mengklaim sebagai platform utama yang digunakan oleh partai politik, politisi, para pemilih, dan organisasi berita untuk beraktivitas dalam percakapan publik secara langsung.

Masih menurut data Twitter, ada sekitar 42,1 juta tweet terkait pemilu di Indonesia pada tahun ini, meningkat 36% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Dengan data-data di atas, artinya, Twitter tentu melihat peluang yang begitu lebar di tengah pesta demokrasi Indonesia yang sedang mencari presiden baru. Di sisi lain, para capres ataupun tim suksesnya pasti juga tengah meramu jurus jitu untuk bisa mengoptimalkan kicauan yang tak habis-habisnya di media sosial.

"Kami berharap dapat bekerja sama dengan semua partai dan politisi untuk lebih terhubung dengan para pemilih perihal topik penting yang berhubungan dengan pemilu secara aktual dan perjalanan kampanye 2014," kata Twitter.

Peter Greenberger, Direktur Global Politik Twitter sendiri menilai bahwa Twitter mengubah cara berkampanye politik dan komunikasi masyarakat.

Untuk pertama kalinya, lanjutnya, kampanye dapat dilakukan secara langsung dengan para pemilih. Mereka dapat terlibat dengan politisi dan semua orang dapat berpartisipasi dalam percakapan agar pengambilan keputusan dalam memilih menjadi lebih tepat.

"Indonesia merupakan contoh besar bagaimana Twitter merevolusi politik dan kami sangat berharap akan pemilihan Presiden Indonesia dengan Twitter untuk pertama kalinya di Indonesia," kata Greenberger.

"Saya akan berada di Jakarta pekan ini untuk bertemu dengan para partai dan mitra koalisi pasangan calon presiden untuk membantu mereka menggunakan Twitter lebih efektif dalam kampanye pemilihan mereka," imbuhnya, dalam keterangan tertulis.

Dari dua capres, baru Joko Widodo (Jokowi) yang dilaporkan sudah bertemu dengan master politik Twitter ini.

Dalam pertemuan tersebut, Jokowi dan Peter berdiskusi serta bertukar pengalaman, antara lain tentang cerita sukses kandidat dan partai politik di dunia dalam memanfaatkan Twitter sebagai wadah kampanye politik.

Jokowi mengatakan, Twitter adalah salah satu kanal media sosial yang penting dalam proses demokrasi dan dalam menjaga kebebasan untuk menyampaikan pendapat, termasuk kritik terhadap pemerintah.

"Oleh karenanya kami ingin menjadikan Twitter sebagai alat pendidikan politik kepada rakyat tentang pentingnya menyampaikan aspirasi secara santun dan terhormat di ranah publik," tandasnya.


(ash/fyk)


Baca Juga



Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Pro Kontra Index »

Indonesia Darurat 4G?

Kalau bukan sekarang, kapan lagi? Ya, inilah kira-kira urgensi yang akhirnya membuat layanan 4G LTE dikomersialisasi di Indonesia. Di sisi lain, layanan 3G dianggap masih belum optimal penyebarannya, termasuk 2G yang masih banyak penggunanya.
Pro
0%
Kontra
0%


Must Read close