5 Cara Cek Hoax, Jangan Sampai Termakan!

5 Cara Cek Hoax, Jangan Sampai Termakan!

Aisyah Kamaliah - detikInet
Selasa, 19 Okt 2021 16:31 WIB
Masa kedaluwarsa tabung elpiji, hoax or not? (Ilustrasi Andhika Akbarayansyah)
Cara cek hoax atau berita benar. Foto: (Ilustrasi Andhika Akbarayansyah)
Jakarta -

Hoax sudah ada sejak zaman dulu, tetapi maraknya internet membuat berita palsu makin gencar tersebar demi kepentingan tertentu. Berdasarkan informasi dari Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo), sudah ada 1.808 hoaks seputar COVID-19 semenjak pandemi. Itu baru COVID-19, belum lagi hoax politik dan lain-lain.

Kadang lumayan sulit mengecek apakah berita tertentu adalah hoaks atau bukan. Agar kamu tidak menjadi salah satu orang yang termakan berita hoax, detikINET, Selasa (19/10/2021) sudah merangkum 5 cara mengecek hoax.

1. Cek fakta ke situs berantas hoax

Ada banyak situs yang menyediakan informasi yang bisa dicek kebenarannya. Kominfo dan Turn Back Hoax adalah contohnya. Beberapa media juga memberikan berita yang khusus membahas 'hoax or not' termasuk detikcom sendiri.

Untuk berita internasional, bisa juga memantau dari PolitiFact.com, Hoax Slayer, atau Snopes.com. Mereka adalah situs yang memeriksa apakah sebuah berita itu benar atau palsu.

Kamu juga bisa memanfaatkan fitur Google News untuk mengetahui apakah ada situs berita yang bisa memvalidasi kebenaran informasi yang kamu dapatkan.


2. Cek foto ke Google Image dan waktu tayang

Google sudah sangat mempermudah kita untuk menelusuri foto yang didapatkan dengan 'Search Image'. Kamu bisa memanfaatkannya untuk mengetahui apakah foto tersebut memang asli atau diberikan narasi yang menggiring ketika pesan broadcast kamu dapatkan?

Selain itu, cek juga apakah ketika informasi tersebut tayang masih relevan dengan situasi sekarang atau tidak. Karena banyak hal yang berkembang seiring berjalannya waktu sehingga kadang informasi yang lama sudah tidak dapat dijadikan patokan.

3. Cek narasumbernya

Kredibilitas dari suatu berita atau informasi yang kita terima harus dipastikan berasal dari sumber yang memang pakarnya sehingga bisa dipertanggungjawabkan. Ketika pesan berantai membawa nama seorang narasumber, jika memungkinkan, lakukan konfirmasi pada orang yang namanya dicatut.

Jika ragu, coba cari adakah sumber lain yang menyebutkan nama narasumber tersebut dengan isi yang sama? Adakah berita lain yang membawa-bawa nama sang narasumber?

4. Hati-hati judul provokatif

Sudah seperti khasnya berita hoax dengan memberikan judul provokatif dan membawa embel-embel berbau sensitif atau bahkan SARA. Apalagi kalau sudah banyak tanda seru atau tanda tanyanya, waduh sebaiknya dicek lagi deh!

Hoax memang sengaja dibuat seprovokatif mungkin untuk membangkitkan sisi emosional penerimanya sehingga lebih mudah termakan. Ketika mendapatkan pesan, bagian otak yang disebut amygdala terlebih dulu yang menyaringnya lalu akan menentukan apakah pesan itu ia percayai atau tidak. Amygdala adalah bagian otak yang berfungsi dalam mengelola rasa cemas, takut dan emosi lainnya.

5. Siapa yang sebar?

Siapa yang membagikan pesan yang kamu terima saat ini sangat mempengaruhi seberapa kredibilitas informasi tersebut. Jika memang meragukan, coba tanyakan pada si pengirim dari mana informasi yang dia dapatkan. Bisa jadi, dia juga termasuk orang yang kena jebakan hoax.



Simak Video "Menag Khawatir Maraknya Penyebaran Hoax Berkedok Dakwah"
[Gambas:Video 20detik]
(ask/fay)