Kini program mengadakan telepon bagi masyarakat desa justru digelar secara independen. Misalnya yang dilakukan oleh Grameen Foundation bekerjasama dengan Bakrie Telecom dan Qualcomm.
Grameen Foundation adalah yayasan yang dibentuk oleh Muhammad Yunus, pemenang Nobel Perdamaian yang selalu mengampanyekan pemberdayaan masyarakat miskin melalui kredit mikro. Program Village Phone dari Grameen telah digelar di banyak negara, dan kini di Indonesia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meski program serupa telah banyak dilakukan di berbagai wilayah dunia, terutama di negara berkembang, di Indonesia program ini berbeda karena memanfaatkan jaringan 3G CDMA. Diharapkan jaringan ini akan memperbaiki kualitas layanan yang diberikan Uber Esia.
Ketiga pihak yang disebutkan di atas akan bekerja sama dengan lembaga pembiayaan usaha mikro lokal Indonesia untuk membantu mitra usaha kecil dalam peminjaman dana yang dibutuhkan untuk membeli sebuah 'usaha 'Telepon Pedesaan. Paket yang didapat mencakup satu ponsel 3G CDMA, materi pemasaran, poster harga, kartu nama dan materi pelatihan. Pembeli paket itu kemudian sudah siap melakukan usaha penyewaan jasa telepon dengan memanfaatkan Uber Esia.
Program ini bolehlah disebut 'memberikan kail dan mengajarkan memancing' daripada 'memberi ikan'. Bukan sekadar membangun jaringan telepon 'sumbangan', penerima program ini 'dipaksa' menjalankan usaha telekomunikasi sehingga kebutuhan hidupnya akan terpenuhi dengan lebih baik.
Ibu rumah tangga disebut sebagai target utama inisiatif ini. Data Biro Pusat Statistik menunjukkan bahwa dari populasi 97,5 juta, hanya 35,4 juta wanita (36,3 persen) yang tercatat memiliki pekerjaan, dan 59,9 persen atau 21,2 juta diantaranya merupakan lulusan Sekolah Dasar. Diharapkan Uber Esia bisa dimanfaatkan kaum wanita untuk mencari penghasilan tambahan.
(wsh/wsh)