Malam itu keluarga Muhammad Albar begitu gembira. Untuk kali pertamanya mereka bisa mencoba secara langsung layanan komunikasi seluler tak hanya lewat suara, tapi juga komunikasi tatap muka.
Ya, keluarga Albar yang tinggal di desa Sebakatan, pulau Balak-Balakan, Sulawesi Barat, sedang menikmati layanan komunikasi video call menggunakan teknologi 3G dengan keluarga lainnya di Balikpapan, Kalimantan Timur.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berkat merekalah, keluarga Albar menjadi yang pertama bisa menikmati seluler 3G di desa nelayan seluas 1 kilometer persegi dan berpenghuni 388 orang itu. Suasana haru dan gembira berbaur jadi satu pada malam menjelang pagi buta.
Pak Albar, 42 tahun, dengan senang hati melayani pertanyaan yang diajukan sejumlah wartawan dan para teknisi dari Telkomsel. Tak terlihat sedikitpun kegusaran di wajahnya meski diganggu oleh tamu tengah malamnya yang mencapai 50 orang.
Sebagai Kepala Desa di Sebakatan, Kabupaten Mamuju, Albar mengaku sudah terbiasa dikunjungi, untuk sekadar bertamu atau meminjam telepon. Maklum, ia satu-satunya warga di desa itu yang memiliki terminal telepon tetap berbasis seluler GSM. Lagi-lagi, sarana telepon ini disediakan oleh Telkomsel sebelumnya.
"Telepon ini sudah jadi seperti wartel fungsinya," kata Albar waktu itu. "Bayarnya tidak jauh lebih mahal dari pulsa pemakaian, asal nggak rugi saja," ia menambahkan sekenanya.
Albar sendiri mengaku bahagia karena desa yang dipimpinnya akhirnya bisa terbebas dari keterisoliran teknologi komunikasi informasi. "Sudah lebih dari 50 tahun kita menunggu sampai akhirnya bisa menikmati telekomunikasi. Terima kasih Telkomsel."
Apa yang dilakukan Telkomsel, kata Direktur Utamanya, sudah diprogramkan sejak jauh-jauh hari. Melalui program yang disebut Merah Putih (Menembus Daerah Pedesaan, Industri dan Bahari) Telkomsel menargetkan untuk melakukan penyediaan sarana telekomunikasi di daerah terpencil sebanyak 10 ribu titik.
"Tahun ini kami targetkan bisa menyediakan akses di tiga ribu titik, termasuk layanan di Kapal Pelni. Mudah-mudahan apa yang kami lakukan bisa menjadi pelepas dahaga program USO pemerintah," kata Dirut Telkomsel Kiskenda Suriahardja.
Disambut Baik
Upaya Telkomsel tentu disambut gembira Dirjen Postel Depkominfo, Basuki Yusuf Iskandar, mengingat program telepon pedesaan yang ingin digelarnya terganjal masalah tender yang membuatnya bak mimpi buruk. Ia sangat terharu melihat masyarakat di desa terpencil akhirnya bisa menikmati layanan telekomunikasi.
"Saya sangat senang bisa hadir meresmikan layanan telekomunikasi di desa terpencil seperti ini ketimbang di hotel mewah yang wangi. Langkah seperti ini memang yang saya inginkan, dan mudah-mudahan diikuti oleh operator lain," ujarnya.
Untuk mencapai Desa Sebakatan, Kabupaten Mamuju, tidaklah mudah. Menempuh jalur laut dari dermaga Semayang, Balikpapan, dengan kecepatan 1200 rpm saja bisa memakan waktu 10 jam. Sejauh mata memandang cuma ada lautan biru dan bintang-bintang kala malam tiba di sepanjang 140 mil perjalanan.
Alternatif lainnya naik helikopter, seperti yang dilakukan rombongan direksi Telkomsel dan Ditjen Postel. Namun biayanya tentu tak murah, sewa heli per jamnya US$ 3000. Dengan waktu tempuh pulang-pergi 1 jam, beserta waktu tunggu 3 jam, Telkomsel harus merogoh kocek US$ 12.000 atau lebih dari Rp 100 juta.
Sementara, biaya yang dihabiskan untuk membangun sarana telekomunikasi di pedesaan tidak semahal itu. Satu perangkat BTS hanya Rp 13 juta dan pembangkit listrik tenaga surya untuk BTS Solar Cell memakan biaya Rp 70 juta.
Artinya, antara biaya perjalanan dan biaya penyediaan sarana telekomunikasi tak jauh berbeda. Belum lagi biaya untuk survei tempat dan lainnya. Namun demikian, tarif seluler yang dikenakan Telkomsel baik di perkotaan maupun pedesaan tidak berbeda, Rp 1000 per menit. Jauh lebih murah dibanding menggunakan telepon satelit yang tarifnya Rp 6400 per menit.
Desa Sebakatan cuma satu dari 38.500 desa yang sejatinya menjadi target pemerintah dalam penyediaan sarana telepon pedesaan. Namun dengan terganjalnya USO, program Telkomsel Merah Putih tentu jadi penawar dahaga sampai akhirnya program pemerintah tersebut bisa kembali berjalan. (rou/wsh)