Huzna Gustiana Zahir Ketua YLKI mengaku prihatin dengan adanya iklan dari operator yang masih belum menampilkan syarat dan ketentuan. Tujuan promosi operator tersebut pun dipertanyakan, sebagai perang tarif atau hanya untuk menggaet konsumen sebanyak-banyaknya.
Meskipun perang promosi bisa dilihat sebagai ketatnya kompetisi, namun menurut Huzna, hal ini malah menunjukkan persaingan yang tidak sehat. Pasalnya, informasi yang disampaikan operator lewat iklannya lebih mengiming-ngimingi nilai atau tarif yang 'kecil' ketimbang informasi yang berguna bagi konsumen.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Untuk menafsirkan iklan tersebut jadinya konsumen dipaksa untuk cerdas. Jangan terpaku dengan angka-angka kecil yang dituliskan dengan besar-besar. Tapi kemudian apa yang ada di balik itu," tukasnya ketika dihubungi detikINET, Kamis (13/3/2008).
Sementara itu menurut Dr Indrawadi Tamin, dosen pasca sarjana ilmu komunikasi Universitas Dr Moestopo Beragama, di dalam suatu iklan terdapat beberapa unsur yakni etika, tingkat efektifitas dan packaging yang menarik.
Nah, setali tiga uang dengan Huzna, Indrawadi juga menilai masih adanya iklan dari operator yang menyimpang. "Ada lah iklan dari operator yang kandungannya misleading," tutupnya, tanpa menyebut operator yang dimaksud.
(ash/wsh)