"Tidak ada aturannya pascabayar harus lebih mahal. Bahkan dengan adanya abonemen, pascabayar harusnya lebih murah," ujar Anggota BRTI Heru Sutadi kepada detikINET di sela diskusi Mastel, di Hotel Shangri-La Jakarta, Rabu (5/3/2008).
Tapi yang terjadi, menurut dia, tarif pascabayar tak berubah karena persaingan tarif hanya terjadi pada layanan prabayar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menanggapi hal itu, Asosiasi Telekomunikasi Seluler Indonesia (ATSI) menyanggah adanya diskriminasi. Penawaran tarif pascabayar diklaim tergantung pada strategi pemasaran masing-masing operator dan tidak bisa distandardisasi.
"Prabayar tidak otomatis lebih murah dan lebih banyak insentif dibandingkan pascabayar. Yang murah belum tentu murah juga," jelas Ketua Umum ATSI, Merza Fachys.
Ia pun menilai, alasan didahulukannya insentif bagi layanan prabayar karena uang yang dibayarkan pelanggan lebih dulu masuk ke kas operator dibandingkan pascabayar yang baru membayar di akhir bulan. Pelanggan prabayar memiliki komposisi lebih dari 95% dari seluruh pengguna telekomunikasi.
"Mungkin, duit pulsa yang mengendap sampai ratusan miliar per bulan, sebagian kecilnya dikembalikan dulu menjadi insentif dalam program promosi. Saya rasa operator nggak rugi, misalnya, memberikan hadiah mobil Jaguar," tandasnya. (rou/ash)