Baru Luncur, Smart Sudah Terancam Tergusur

Baru Luncur, Smart Sudah Terancam Tergusur

- detikInet
Selasa, 04 Sep 2007 16:00 WIB
Jakarta - PT Sinar Mas Telecom yang baru saja meluncurkan layanan seluler berbasis teknologi CDMA, Smart, masih mungkin terancam kena gusur jika teknologi Mobile Satelite jadi diimplementasikan di Indonesia.Hal itu tertuang dalam Peraturan Menkominfo No. 7/2006. Malah dalam aturan tersebut, Smart harus pergi tanpa kompensasi apapun jika teknologi Mobile Satelite hadir dan menggunakan frekuensi 1900 MHz yang ditempatinya saat ini. Hal ini layaknya penggusuran frekuensi 1900 MHz ke 800 MHz yang menimpa layanan Telkom Flexi dan Indosat Starone.Perlu diketahui, frekuensi 1900 MHz yang ditempati Smart tidaklah sempurna, di mana frekuensi uplink-nya merupakan frekuensi terestrial untuk saluran komunikasi darat, sedangkan downlink-nya merupakan frekuensi untuk satelit. Jadi, frekuensi yang ditempati Smart memang sangat rentan untuk berpindah.Anggota Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) Heru Sutadi menjelaskan kepada detikINET, Selasa (4/9/2007), penggusuran frekuensi tidak hanya berlaku bagi operator tertentu saja, namun bagi seluruh penyedia layanan telekomunikasi bila keadaannya memang sangat mendesak dan diperlukan.Deputy CEO Smart Telecom, Djoko Tata Ibrahim mengaku sudah mengetahui kemungkinan penggusuran frekuensi tersebut sejak jauh-jauh jari. Namun ia mengaku tidak khawatir."Kami menyadari, frekuensi downlink kami di rentang pita 1890 MHz hingga 1990 MHz merupakan frekuensi untuk Mobile Satelite. Itu isu lama dan belum ada (teknologi layanan-red.) yang jalan. Di dunia juga tidak ada, karena Mobile Satelite tidak ekonomis.""Kami tidak khawatir frekuensi itu (1900 MHz) akan digunakan untuk Mobile Satelite, tapi hanya untuk terestrial saja," jelasnya usai peluncuran perdana Smart di Hotel Grand Hyatt, Senin petang (3/9/2007).Tak Perlu Banyak BTSDalam pengoperasian layanannya, Smart diberikan lima kanal. Dengan alokasi tersebut, Djoko mengklaim, Smart mampu untuk menyelenggarakan layanan seluler dan telepon tetap nirkabel (FWA) sekaligus.Lebih lanjut, ia juga mengatakan bahwa kemampuan teknologi BTS yang dimiliknya lebih efisien ketimbang operator GSM yang ada."Satu menara BTS kami memiliki kapasitas empat kali lipat GSM. Jadi kami tak memerlukan banyak. Target 1.500 BTS sampai akhir 2008 itu setara dengan 6.000 BTS teknologi GSM," ujarnya.Blok penomoran yang dimiliki Smart sampai saat ini ialah 0881 dan 0882, dengan cakupan kombinasi yang diperkirakan bisa menampung kapasitas sekitar 3,5 juta pelanggan.Untuk tahap awal peluncuran, Smart Telecom melemparkan sekitar 500 ribu nomor kartu baru untuk wilayah Jabodetabek. Jumlah kartu perdana yang dilempar di area itu lebih banyak ketimbang di delapan area lainnya, seperti Solo, Surabaya, Semarang, dan Bandung. "Kami berharap target sebanyak 600 ribu hingga 800 ribu pelanggan sampai akhir 2007 bisa terealisasi." tandas Djoko.Di 2008, Smart Telecom berencana masuk ke pulau lain seperti Kalimantan, Sumatera, Sulawesi, dan daerah Indonesia Timur lainnya.Djoko mengklaim, operator ini menjual layanan dengan tarif paling kompetitif dengan berbagai kemudahan. Harga konsumen yang diberlakukan, yaitu percakapan antarsesama pelanggan Smart Rp 45 per menit dan Rp 25per SMS. Sementara, tarif antar percakapan antaroperator Rp 550 per menit dan Rp 275 per SMS, serta layanan akes data Rp 7 per menit.Menurut dia, tarif tersebut berlaku flat di seluruh Indonesia, 24 jam setiap hari, tanpa syarat dan ketentuan berlaku. "Kami berharap target ARPU (pendapatan rata-rata dari tiap pelanggan perbulannya) Rp 50.000 bisa tercapai," tandasnya.

(rou/ash)