Pelanggan Broadband Indonesia Kalah Tipis dari Filipina
- detikInet
Jakarta -
Dari hasil riset perusahaan penyedia jaringan Alcatel-Lucent Indonesia pada semester pertama 2007 ini, pelanggan akses jaringan pita lebar (broadband) di Indonesia hanya kalah tipis dari Filipina.Indonesia yang berpopulasi 225 juta penduduk, disebutkan berteledensitas 0,2% atau memiliki sekitar 450 ribu pelanggan broadband. Sementara Filipina yang dihuni 91 juta jiwa, juga tak jauh beda, pelanggan broadband-nya cuma 455 ribu pelanggan dengan teledensitas 0,5%.Vietnam pun tak jauh lebih unggul dari Indonesia dan Filipina. Negara yang berpenduduk 85,2 juta jiwa itu, hanya memiliki pelanggan broadband sekitar 767 ribu dengan teledensitas 0,9%.Sementara, ketiga negara ini lumayan tertinggal bila dibandingkan dengan Malaysia yang berpopulasi 26 juta jiwa. Pelanggan broadband di negara serumpun itu mencapai 1,17 juta dengan teledensitas 4,5%.Dari negara-negara yang berada di wilayah Asia, Cina merupakan negara yang memiliki pelanggan broadband terbesar, dengan angka 44,64 juta. Meski demikian, bila dilihat dari populasinya yang mencapai 1,313 miliar, penetrasinya terbilang cukup rendah, hanya 3,4%.Tumbuh Lima Kali LipatChief Technical Officer Alcatel-Lucent Indonesia Dirk Wolter berpendapat, Indonesia memiliki potensi pertumbuhan pelanggan broadband yang cukup baik.Pada 2010 mendatang, jumlah pelanggan broadband bisa meningkat hingga lima kali lipat dari jumlah yang ada saat ini. Sebab, kata dia, tarif berlangganan yang ditawarkan penyedia layanan makin terjangkau."Sebagai contoh, penurunan tarif akses internet broadband Telkom Speedy dari kisaran Rp 600 ribu per bulan menjadi Rp 200 ribu, turut memberikan dampak positif pertumbuhan dengan meningkatnya permintaan layanan," ujarnya.Dari sisi bisnis, Dirk mengatakan, layanan broadband di Indonesia cukup menguntungkan buat operator. Pelanggan layanan tersebut rata-rata harus merogoh koceknya sebanyak Rp 360 ribu untuk membayar tagihannya tiap bulan.Statistik Paruh 2007Lebih spesifik tentang Indonesia, Alcatel-Lucent mencatat beberapa data menarik lainnya, yang dikutip detikINET, Jumat (13/7/2007). Dengan populasi 225 juta jiwa, teledensitas pengguna internet di Indonesia mencapai 11,1% atau sekitar 25 juta pada akhir semester pertama 2007 ini. Sementara pelanggan telepon tetap, baik kabel maupun nirkabel, baru mencapai 10,2 juta sambungan dengan teledensitas 5%. Jumlah tersebut tak kalah jauh dari pelanggan telepon berbasis teknologi CDMA. Disebutkan pelanggan CDMA mencapai 12 juta dengan penetrasi 5,3%.Namun bila dibandingkan dengan pelanggan layanan telekomunikasi berbasis teknologi GSM, kedua angka di atas terbilang timpang. Total pelanggan GSM di Indonesia mencapai 72 juta dengan teledensitas 32%.Saat ini, teknologi GSM mayoritas digunakan untuk layanan seluler. Rata-rata pemakaian pulsa per pelanggan (average revenue per user/ARPU) untuk layanan seluler juga terbilang lumayan, sekitar Rp 72 ribu atau US$ 8 per bulan."Pertumbuhan seluler di Indonesia memang sangat tinggi. Dengan teledensitasnya yang saat ini 30%, bisa melonjak hingga 50% pada 2010 mendatang," tandas Dirk.
(rou/ash)