Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Perusahaan Malaysia Siap Borong Megaproyek Palapa O2 Ring

Perusahaan Malaysia Siap Borong Megaproyek Palapa O2 Ring


- detikInet

Jakarta - Jumlah peminat tender Palapa O2 Ring melonjak hingga menjadi 17 perusahaan. Meski mayoritas menyuarakan konsorsium, namun satu pihak dari Malaysia yang ingin ikut tender malah menyatakan tertarik memborong megaproyek prestisius tersebut."Mereka menawarkan dana over capacity, hampir US$ 2 miliar," ungkap Kepala Bagian Umum dan Humas, Direktorat Jenderal Pos dan Telekomunikasi, Gatot S. Dewa Broto, ketika ditemui di kantornya, Senin (12/3/2007).Gatot menampik ketika detikINET menanyakan apakah pihak tersebut berasal dari Telekom Malaysia. Ia hanya mengatakan perusahaan tersebut berasal dari Malaysia dan bukan operator telekomunikasi di negaranya.Sejatinya, proyek Palapa Ring yang terdiri dari tujuh cincin fiber optik yang meliputi Sumatera, Jawa, Kalimantan, Nusa Tenggara, Sulawesi, Maluku, dan Papua, serta satu jaringan sentral penghubung seluruh cincin tersebut, hanya membutuhkan dana sekitar US$ 1,5 miliar atau sekitar Rp 14-15 triliun.Pastinya, dengan dana segar US$ 2 miliar, akan sanggup memenuhi kebutuhan dana proyek pembangunan backbone serat optik international yang terdiri dari jaringan kabel bawah laut sepanjang 35.280 km, dan kabel yang membentang di darat sepanjang 21.708 km. Secara keseluruhan infrastruktur tersebut melingkupi 33 provinsi dan lebih dari 440 kabupaten.Meski demikian, Gatot mengatakan, faktor kekuatan finansial bukan jaminan pasti untuk langsung memenangkan tender. Karena, lanjutnya, yang akan menjadi penilaian terdiri dari feasibility (studi kelayakan), business plan, serta kemampuan bekerja sama dengan operator lain."Contohnya, seperti Sampoerna yang sempat ikut dalam tender 3G. Imej mereka yang bergelimang uang sempat bikin operator lain kuatir. Tapi nyatanya, mereka menyatakan mundur sebelum tender dimulai," Gatot mengumpamakan.Proyek yang rencananya ditenderkan Oktober 2007 tersebut, ujar Gatot, belum menemukan model bisnis yang sesuai. Meski demikian, ujarnya, pemerintah cenderung memilih model konsorsium. Model tersebut dipilih untuk mengantisipasi kemungkinan proyek tersebut berhenti di tengah jalan jika dilaksanakan oleh satu operator saja.Gatot menambahkan, pada umumnya peminat tender memilih untuk membangun jaringan di kawasan Indonesia bagian timur. Hal itu, tandasnya, disebabkan sudah padatnya jaringan serat optik di wilayah bagian barat. (rou/nks)







Hide Ads