Kategori Berita
Daerah
Layanan
Detik Network
detikInet
Kecelakaan Adam Air
Indonesia Tidak Punya Satelit Radar
Kecelakaan Adam Air

Indonesia Tidak Punya Satelit Radar


- detikInet

Jakarta - Keberadaan pesawat Adam Air dengan nomor penerbangan KI 574 sempat terdeteksi satelit Singapura sebelum kemudian dinyatakan hilang. Banyak pihak kemudian bertanya-tanya, kenapa keberadaan pesawat naas itu justru terdeteksi satelit negara tetangga, bagaimana dengan satelit kita? Apakah tidak mampu mendeteksi? Ketua Asosiasi Satelit Indonesia (ASSI) Tonda Priyanto mengatakan Indonesia tidak memiliki satelit untuk radar. Untuk kasus kecelakaan Adam Air, Tonda menjelaskan bahwa keberadaannya hanya bisa ditangkap oleh satelit radar yang beroperasi di orbit rendah (Low Earth Orbits/LEO). Sementara kemampuan Singapura menerima sinyal Adam Air, diduga Tonda karena Singapura bekerjasama dengan penyedia satelit-satelit orbit rendah."Satelit Indonesia sekarang adalah satelit geosynchronous orbits (GEO) untuk keperluan komunikasi, bukan untuk radar, juga bukan untuk remote sensing," kata Tonda saat berbincang dengan detikINET Rabu (3/1/2007). "Saya tidak tahu apakah Singapura punya satelit seperti itu (satelit orbit rendah-red), tapi kemungkinan Singapura bekerjasama dengan negara atau konsorsium yang mengoperasikan satelit-satelit orbit rendah," paparnya.Menurut Wikipedia, satelit LEO bergerak lebih cepat dari kecepatan bumi sehingga letaknya berpindah-pindah, dengan ketinggian 200-2.000 Kilometer di atas permukaan bumi. Sementara satelit GEO bergerak sama dengan kecepatan bumi sehingga tidak terlihat bergerak dan dari bumi tampak seperti titik yang diam. Satelit ini mengudara di ketinggian 42.164 dari pusat bumi atau 35.786 dari atas permukaan laut.Tonda menceritakan, untuk kejadian tsunami di Aceh, Indonesia mendapatkan pencitraan permukaan Aceh sebelum dan setelah tsunami dari hasil remote sensing yang ditangkap satelit LEO milik Amerika Serikat.Kembali ke kasus Adam Air, Tonda menilai bahwa sudah saatnya Indonesia memiliki satelit orbit rendah untuk radar. "Indonesia memang sudah punya satelit LEO untuk meteorologi, tapi tidak untuk radar," ungkap Tonda.Masih belum jelas mengapa Indonesia tidak memiliki LEO untuk radar. Namun, Tonda berpendapat kendalanya adalah biaya. Padahal, soal harga, Tonda menjelaskan bahwa satelit LEO lebih murah dibanding GEO. "Satelit LEO harganya sekitar 70-an juta dollar, yang bisa berputar delapan kali sehari. Sedangkan satelit GEO kecil harganya US$ 150 juta," ungkap Tonda.Menurutnya, belakangan mulai muncul pemikiran-pemikiran yang mengkaji apakah biaya yang dikeluarkan untuk membeli hasil pencitraan satelit-satelit asing, cukup untuk membeli satelit radar."Kalau uang untuk membeli gambar hasil remote sensing yang ditujukan untuk bermacam-macam keperluan seperti kehutanan, pertanian, pertahanan, perhubungan dan lain-lain itu dikumpulkan, apakah cukup untuk membeli satelit radar? Mestinya cukup," ujarnya.Tonda berpendapat, Indonesia sebenarnya bisa mengupayakannya bersama-sama dengan negara lain untuk memiliki dan mengoperasikan radar satelit. "Kalau misalnya kita bekerjasama dengan empat negara, maka kita bisa punya empat satelit LEO yang berputar di atas kita dan negara-negara rekanan," tandasnya. (nks/nks)







Hide Ads