Internet Masa Kini Harusnya Sudah Dipenuhi AR-VR

Internet Masa Kini Harusnya Sudah Dipenuhi AR-VR

ADVERTISEMENT

Internet Masa Kini Harusnya Sudah Dipenuhi AR-VR

Yudistira Perdana Imandiar - detikInet
Selasa, 04 Okt 2022 13:25 WIB
Indonesia
Foto: Istimewa
Jakarta -

Era disrupsi menjadikan internet sebagai kebutuhan penting bagi banyak masyarakat dunia. Internet menjadi tak terlepaskan dari aktivitas masyarakat, mulai dari belajar, bekerja, berkomunikasi, dan banyak lainnya.

Lewat internet, setiap orang dapat melakukan video call, streaming video, meeting, mendengarkan musik, berbelanja, bahkan bermain game dengan seseorang di belahan bumi yang lain. Menurut Direktur Enciety Business Consult (EBC) Don Rozano internet di Tanah Air cenderung tertinggal. Sebab, pengalaman berinternet di Indonesia masih terbatas di dunia 2D (2 dimensi), dengan sebagian besar aktivitas yang dilakukan terbatas pada bertukar teks, gambar, dan video saja.

Don mengulas pada era terkini, semesta internet akan menjadi lebih dinamis, lebih hidup, dan nyata. Semesta internet nantinya bakal dipenuhi dengan augmented reality (AR) dan virtual reality (VR).

Augmented reality adalah teknologi yang 'membawa' dunia online ke dunia offline, sehingga hal yang tadinya berada di dunia online menjadi hadir dan seolah-olah berada di dunia offline. Contoh penerapan teknologi ini antara lain, game Pokemon GO dan filter wajah di Tiktok atau pun Snapchat.

Berbeda dengan AR, virtual reality (VR) adalah teknologi yang diciptakan untuk membawa dunia offline ke dunia online. Teknologi VR inilah yang kemudian diangkat oleh Meta (tadinya Facebook) dan diberi nama baru, metaverse.

"Tidak hanya terbatas pada metaverse saja, internet juga mampu memproses informasi melalui machine learning, artificial intelligence, big data, dan blockchain," jelas Don dalam keterangan tertulis, Selasa (4/10/2022).

Ia menjabarkan pada era internet terkini data tidak akan lagi terpusat di server perusahaan besar, karena data akan diletakkan dalam teknologi blockchain. Dengan begitu setiap user memiliki kontrol penuh terhadap data mereka.

Meski demikian, kemajuan teknologi ini bukan tanpa kendala. Don menjabarkan hingga sekarang, faktor kecepatan internet terkadang menjadi hal paling menyebalkan dan mengganggu aktivitas. Pun kecepatan internet juga sangat bergantung dari berapa banyak bandwidth yang diperlukan untuk setiap kegiatan dan berapa banyak user atau pengguna dan perangkat yang menggunakan internet secara bersamaan.

Mengutip Broadband Speed Guide dari Federal Communications Commission yang membandingkan kebutuhan kecepatan (Mbps) untuk pelbagai pemanfaatan internet dalam rumah tangga, jika ada empat pengguna atau perangkat yang terhubung dengan internet dalam waktu bersamaan, maka dibutuhkan kecepatan internet yang berbeda-beda untuk setiap orang.

Bila hanya digunakan untuk fungsi dasar seperti browsing, menonton video dengan kualitas gambar biasa, VoIP hingga mendengarkan radio melalui jaringan internet, maka dibutuhkan kurang lebih 12 hingga 25 Mbps untuk mendapatkan kualitas akses yang memuaskan. Namun, bila pengguna mengakses streaming HD video, multiparty video conference hingga bermain game online secara bersamaan membutuhkan lebih dari 25 Mbps.

Don mengatakan peningkatan daya beli masyarakat tentu akan sangat diharapkan agar mampu mendorong pelanggan fixed broadband bermigrasi ke paket berlangganan di atas 20 Mbps. Sebab, menurutnya sumber ketidaknyamanan dalam berinternet salah satunya terkait ketidaksesuaian antara paket berlangganan yang dipilih pelanggan dengan perilaku penggunaan internet keseharian, berikut jumlah anggota rumah tangga atau perangkat yang terhubung secara bersamaan dengan internet.

Adapun saat ini rata-rata jumlah anggota dalam rumah tangga Indonesia adalah 3,9 orang per rumah tangga. Umumnya setiap orang memiliki lebih dari satu perangkat yang terhubung dengan internet secara bersamaan.

Don menilai wajar apabila kemudian banyak fixed broadband provider yang menawarkan paket berlangganan dengan kecepatan yang tinggi untuk menghindari komplain pelanggan. Walau pun sering kali pelanggan tidak mendapatkan kecepatan sesuai dengan paket yang sudah dipilihnya.

Berdasarkan data Enciety Business Consult di Juni 2022 lalu, ada lima fixed broadband yang throughput-nya sudah di atas 75 persen. Salah satunya adalah IndiHome, provider internet dari Telkom Indonesia.

"Ke depan, kebutuhan internet tentu akan semakin meningkat dan menyeluruh di seluruh negeri," ujar Don.

Lihat juga Video: Strategi Indonesia Atasi Kesenjangan Digital Dalam Negeri dan Dunia

[Gambas:Video 20detik]



(akn/ega)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT