Singapura -
Internet di Singapura jauh lebih maju dibanding di tanah air. Untuk mencapai kondisi seideal Singapura, Indonesia masih dihadapkan pada sejumlah kendala.Singapura
berani menggratiskan akses internet broadband 1 Gbps bagi warganya selama satu tahun.Kebijakan yang diumumkan Menteri Komunikasi Informasi dan Kesenian Singapura, Dr Lee Boon Yang, didukung kondisi dan potensi Singapura yang memang memungkinkan untuk itu.Berkaca pada kondisi di tanah air, Indonesia harus mengevaluasi berbagai hal untuk mewujudkan perkembangan internet seperti di Singapura.Ketua Masyarakat Telematika (Mastel) Mas Wigrantoro Roes Setiadi mengatakan pemerintah Indonesia tidak memiliki dana untuk mewujudkan kondisi tersebut. Meski begitu, Mas Wig menyarankan agar masalah pendanaan diserahkan kepada swasta."Ikuti langkah Singapura? Pemerintah RI tidak punya uang. Kalau dengan swasta, bisa saja. Namun bagaimana dengan perizinannya, siap tidak pemerintah untuk mengaturnya?" tukasnya pada
detikINET di ajang CommunicAsia 2006 yang digelar mulai 20 hingga 23 Juni 2006 di Raffles City Convention Centre, Singapura.Soal dana, menurut Mas Wig, pemerintah Singapura lebih siap. "Kalau di Singapura, pembuat kebijakan dan implementasinya dilakukan oleh pemerintah. Pemerintahnya juga komit dengan dana. Di Indonesia?" ujarnya.Ia menjelaskan, saat ini yang perlu dicermati adalah dampak dari rencana Singapura itu terhadap Indonesia. Mengingat dana pemerintah Singapura melalui badan usaha milik negara di negeri singa itu, banyak diinvestasikan di Indonesia, seperti di sektor telekomunikasi dan perbankan.
GeografisAkademisi sekaligus Ketua Tim Teknis pengembangan sistem untuk situsPresiden SBY, I Made Wiryana, meninjau perbedaan kondisi geografis antara Indonesia dan Singapura. Menurutnya, pembangunan backbone internet di Indonesia dianggap tidak semudah Singapura dari segi biaya dan implementasi, mengingat geografis Indonesia jauh lebih luas dibanding Singapura."Kita sering lupa sama kondisi geografis. Singapura cuma satu pulau. Membangun backbone di Singapura tidak se-
costly di Indonesia. Apalagi dengan kondisi kepulauan di Indonesia, akan menjadi paling
costly," ujarnya pada
detikINET.Oleh sebab itu, menurutnya, pemerintah seharusnya hanya bertindak sebagai fasilitator. "Sehingga orang mau investasi ke infrastruktur," imbuh Dosen Universitas Gunadarma itu.
PemerintahanSedangkan menurut anggota komite Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI), Koesmarihati, keberhasilan Singapura dalam membangun infrastruktur internet dikarenakan kepemimpinan yang terpusat dan pendelegasian tugas sesuai dengan kompetensi masing-masing departemen."Posisi Menteri ICT di Singapura tepat di bawah Perdana Menteri. Menterinya pun hanya membuat kebijakan saja, yang membuat cetak biru para Dirjen-nya masing-masing. Semua itu kan diperlukan leadership dan
will untuk itu. Kalau di Indonesia, Menteri sering tidak sabaran hingga turun tangan sendiri," tandasnya kala berbincang-bincang dengan
detikINET.Tingkat penggunaan internet di Indonesia saat ini masih sangat rendah, hanya kurang dari satu persen dari populasi penduduk 240 juta jiwa. Sedangkan penetrasi internet di Singapura mencakup 90 persen dari populasi penduduk 4 juta jiwa. (rou)
Keterangan Foto: Atas: Salah satu booth paviliun Indonesia di ajang CommunicAsia 2006. Hingga hari kedua, booth ini masih lengang. Bawah: Mas wigrantoro di ajang CommunicAsia 2006. Fotografer: dbu/inet.
Liputan ke ajang CommunicAsia 2006 ini terselenggara atas kerjasama detikINET dan Siemens Indonesia, serta turut didukung oleh Asus Indonesia
(ketepi/)