Medan Terjal, Tantangan Bangun Tower BTS di Pedalaman Papua

Medan Terjal, Tantangan Bangun Tower BTS di Pedalaman Papua

Dea Duta Aulia - detikInet
Kamis, 21 Apr 2022 22:30 WIB
Bakti Kominfo
Foto: Dea Duta Aulia/detikcom
Jayapura -

Cuaca Jayapura Kamis (21/4/2022) pagi nampak sedikit berawan. Namun hal itu tidak menghambat rombongan untuk menyaksikan secara langsung proses pendistribusian material tower base transceiver station (BTS) 4G di Papua.

Seperti diketahui, cuaca dan gangguan keamanan merupakan salah satu faktor yang menyebabkan pendistribusian dan pembangunan tower BTS 4G terhambat. Kali ini, detikcom bersama Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (BAKTI) Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo)berkesempatan menyaksikan dan merasakan secara langsung proses pendistribusian material tower BTS 4G ke sejumlah titik di pedalaman Papua.

Alur pendistribusian material tower di mulai dari warehouse yang berada Entrop Jayapura. Dari situ, seluruh komponen material tower dikirim dengan menggunakan 3 truk menuju Bandara Senggeh dengan waktu tempuh perjalanan darat 6 jam.

Dalam pengiriman darat tersebut, truk pengangkut material harus melewati jalan berkelok yang dikelilingi oleh tebing-tebing. Menurut keterangan Government Public Relation and Transportation PT Infrastruktur Bisnis Sejahtera Benyamin Sembiring rute tersebut kerap terjadi aksi pemalakan dan rawan longsor.

Sesampainya di Bandara Senggeh, beragam material pun kembali dikelompokkan untuk mempermudah pengiriman ke titik-titik pemasangan BTS. Jika sudah, maka komponen material yang memiliki dimensi tidak terlalu besar akan dikirim dengan menggunakan pesawat caravan. Namun, jika ada material berdimensi besar seperti Vsite dan pagar akan dikirim dengan menggunakan helikopter.

Benyamin menjelaskan sebelum material dimasukkan ke dalam pesawat caravan semuanya harus melalui proses penimbangan untuk menghindari kelebihan beban. Sebab setiap pesawat caravan hanya bisa mengangkut barang 1 ton.

"Setiap barang sebelum masuk pesawat kita timbang, kita catat biar tidak kelebihan beban," kata Benyamin saat ditemui di Bandara Senggeh, Papua, Kamis (21/4/2022).

Bakti Kominfo Foto: Dea Duta Aulia/detikcom

Sekitar pukul 10.00 WIT rombongan kembali melanjutkan perjalanan dari Bandara Senggeh menuju distrik yang sedang dalam proses pemasangan tower BTS 4G. Sekitar 10 menit helikopter mengudara, gangguan cuaca pun mulai dirasakan. Angin kencang yang menghempas badan helikopter pun begitu terasa hingga menyebabkan sedikit turbulence. Rasa khawatir saat mengalami turbulence pun muncul apalagi kiri dan kanan sepanjang perjalanan udara dikelilingi oleh pegunungan.

Gangguan dari cuaca tidak hanya sampai di situ saja, helikopter yang ditumpangi pun sempat bermanuver balik arah untuk menghindari awan yang mengelilingi pegunungan. Perlu diakui dari ketinggian nampak alam Papua yang masih begitu asri. Hutan dengan pepohonan tinggi menjuntai dan rapat nampak begitu terlihat. Bahkan tak jarang terlihat satwa endemik khas Papua nampak berterbangan.

Sementara itu, Pilot Pesawat Caravan Roli Azfriansyah mengakui cuaca merupakan salah satu faktor yang kerap menghambat proses pengiriman material tower BTS 4G.

"Kendala yang kami hadapi inikan Papua ini kontur pegunungan, Papua ini 3 area penerbangan berbahaya di dunia," kata Roli Azfriansyah.

Apalagi sejumlah bandara di kawasan tersebut belum dilengkapi dengan air traffic control dan sulitnya mendapatkan update cuaca yang valid.

"Jadi keterbatasan di sini tidak ada air traffic control. Kalo di pegunungan kita tidak bisa dapat update cuaca yang valid dari BMKG,"jelasnya.

Bakti Kominfo Foto: Dea Duta Aulia/detikcom

Jika kondisi cuaca memang tidak mendukung, maka pilot tidak akan memaksakan diri untuk melakukan penerbangan sebab cukup berisiko.

"Bandara itu ada di lembah-lembah gunung atau atas gunung. Kalo bandara lembah anginnya ngelewatin limit pesawat kita tidak bisa masuk. Kalo sudah terlanjur terbang kita putar balik kalo cuaca buruk," tutupnya.

(akn/fay)