Kerjasama MVNO Esia-StarOne Tertunda
- detikInet
Jakarta -
Masalah teknis jadi hambatan kerjasama Mobile Virtual Network Operator (MVNO) antara Indosat StarOne dan Esia milik Bakrie Telecom. Kerjasama yang disepakati September 2005 dan dijadwalkan kelar April 2006, jadwal rampungnya molor jadi Juli. Hal itu diungkap Director & Corporate Secretary PT Bakrie Telecom Tbk, Rakhmat Junaidi. "Dulu MVNO kita targetkan selesai April, lalu Juni sudah bisa jalan. Namun mundur karena soal teknis yang masih kita bicarakan," ujarnya di Hotel Anyer, Banten, Rabu (3/5/2006).Kerjasama MVNO antar kedua operator fixed wireless access itu, merupakan jalan keluar yang ditempuh akibat 'penggusuran' frekuensi StarOne. Layanan milik Indosat ini sebelumnya bercokol di frekuensi 1.900 MHz. Namun demi alokasi frekuensi teknologi seluler generasi ketiga (3G), sejumlah penghuni frekuensi tersebut harus tergusur.Dengan kerjasama itu, StarOne bisa berbagi pakai frekuensi 800 MHz yang ditongkrongi Esia untuk wilayah Jakarta, Jawa Barat dan Banten. Di sisi lain, kerjasama itu membuat Esia berkesempatan memperluas layanannya secara nasional, dengan menggunakan lisensi yang dimiliki StarOne.Namun menurut Rakhmat, kerjasama itu terhambat karena sejumlah pembicaraan berlangsung alot. Maklum, bentuk kerjasama MVNO masih merupakan barang baru di Indonesia.Sekadar informasi, MVNO merupakan operator mobile yang tidak memiliki spektrum atau tidak memiliki infrastruktur jaringan. Agar dapat beroperasi, operator MVNO memiliki perjanjian bisnis dengan operator mobile lainnya, untuk membeli unit penggunaan untuk dijual kembali ke konsumen mereka."Kalau ditanya ada masalah, pasti ada. Karena sistem dan sentral kita (Esia dan StarOne) harus bisa saling bicara satu sama lain. Untuk itu perlu IOT (Interoperability Test)," jelasnya.Hingga saat ini, menurutnya, pembicaraan teknis, komersial, dan legal masih berjalan antar kedua belah pihak. Target yang dijadwalkan selesai April ini, pun molor jadi Juli. "Dari sisi teknis karena kedua belah pihak tak ingin investasinya percuma," ujar Rakhmat. "Bulan Juli kita selesaikan semua. Tadinya santai, sekarang ngebut. Ujung-ujungnya bagaimana investasi yang sudah dikeluarkan bisa untuk menekan cost," tandasnya. (rou)
(ketepi/)