Indonesia Bisa Contoh Wimax dari India
- detikInet
Jakarta -
Soal implementasi Wimax, Indonesia disarankan untuk mengambil teladan dari India. Potensi pasar kedua negara dianggap sama-sama besar, tapi daya beli masyarakatnya kurang.Hal itu diungkapkan Vice President Marketing and Alliances Aperto Networks Manish Gupta. Indonesia menurutnya sebaiknya mencontoh India dalam hal pengimplementasian teknologi berbasis microwave, Worldwide Interoperability for Microwave Access (Wimax)."Pasar India sangat mirip dengan Indonesia. Itu terlihat dari rendahnya penetrasi internet, broadband, dan komputer," kata Gupta di Hotel Intercontinental, Jakarta, Senin (13/3/2006). "Potensi pasarnya besar, namun masih kurang dalam kemampuan daya beli konsumen akhir," ujarnya menambahkan.Aperto Networks sendiri merupakan penyedia perangkat pemancar Base Transceiver Station (BTS) dan Subscriber Unit untuk teknologi Wimax. Gupta menyarankan India sebagai panduan, karena dia mengklaim telah melihat berbagai model pengimplementasian terbaik untuk tiap negara. Aperto sendiri mengklaim telah menjadi mitra dari sekitar 200 operator telekomunikasi di 65 negara.Kehadiran vendor itu di Indonesia digandeng oleh penyelenggara jasa telekomunikasi korporat berbasis data PT Citra Sari Makmur (CSM). Demi memperluas cakupan wilayah layanannya, CSM menggunakan teknologi nirkabel sekelas Wimax yang disediakan Aperto.Menurut GM Marketing CSM Said Sungkar, layanan CSM diklaim sudah menjangkau 10 kota besar di Indonesia, seperti Jakarta, Medan, Surabaya. Yang menjadi sasaran pelanggannya ialah segmen korporasi, small office home office (SOHO) untuk penyediaan aplikasi internet, serta core perbankan.Said juga optimis bisa menggelar layanan Wimax begitu izin penyelenggaraan digulirkan oleh pemerintah. "Sejak tahun lalu, jaringan yang kita gelar sudah berbentuk pre-Wimax. Jadi, begitu regulasi bergulir, kita siap gelar layanan," ujarnya.Wimax Tak Semahal 3GSertifikasi Wimax, menurut Gupta, sudah digulirkan sejak Januari 2006 lalu dan mulai diimplementasikan di banyak negara maju dan berkembang. Aperto pun ikut kecipratan rezeki dengan proyeknya di lebih dari 20 negara. Antara lain India, Brasil, Amerika Serikat, Rusia, Timur Tengah, Mesir, serta Spanyol. Indonesia menjadi target berikutnya.Gupta juga mengatakan bahwa untuk mengimplementasikan Wimax tidak dibutuhkan dana sebesar yang dikeluarkan untuk teknologi telekomunikasi generasi ketiga (3G). Dia memperkirakan dana yang dikeluarkan untuk membangun satu titik layanan 3G sebesar US$ 100 juta, sedangkan untuk Wimax diperkirakan sebesar US$ 10-100 ribu. "Tapi itu tergantung konfigurasi dan besarnya bandwidth yang dibutuhkan," imbuhnya.Dia juga menekankan bahwa Wimax tidak akan berkompetisi secara langsung karena target pasarnya berbeda. Menurutnya, Wimax akan lebih terfokus pada layanan fixed wireless. Sedangkan 3G akan mengembangkan sayap bisnis di layanan mobile.Di Indonesia, Wimax sedang jadi pembicaraan yang cukup hangat. Teknologi yang bisa menggapai hingga 50 kilometer itu, diyakini bisa meningkatkan angka pengguna internet hingga ke pelosok desa. Tentu dengan catatan, harga layanannya terjangkau kocek masyarakat kebanyakan.Sebelumnya, pihak Intel Indonesia gencar 'bergerilya' ke pemerintah demi bisa menggelar ujicoba teknologi itu. Intel berharap banyak pihak bisa mempelajari manfaat serta kekurangan dan kelebihan Wimax. Namun, meski punya tujuan sama, Said mengatakan belum ada pembicaraan konsolidasi dengan Intel demi menggelar ujicoba Wimax. (rou/wsh)
(wicak/)