Pemanfaatan Robot Tangani COVID-19 Bisa Cegah Kematian Nakes

Pemanfaatan Robot Tangani COVID-19 Bisa Cegah Kematian Nakes

Agus Tri Haryanto - detikInet
Senin, 21 Des 2020 21:15 WIB
Robot RAMA versi pertama diintroduksi ke Gubernur Jateng Ganjar Pranowo.
Foto: Istimewa
Jakarta -

Pemanfaatan inovasi berupa robot dinilai solusi efektif dalam memberikan layanan kesehatan terhadap pasien COVID-19, seiring ancaman tertularnya tenaga kesehatan (nakes) yang berisiko kematian.

Data Ikatan Dokter Indonesia (IDI) hingga 15 Desember 2020 tercatat ada 202 dokter se-Indonesia meninggal karena virus Corona, yang mana salah satunya diakibatkan kontak erat dengan pasien.

Robot yang bisa digunakan untuk menangani pasien COVID-19 adalah Robot Asisten Medis Autonomous (RAMA), hasil kerja sama Politeknik Negeri (Polines) Semarang dengan Telkom unit Digital Next Business (Telkom DXB). Robot cerdas tersebut segera dioperasikan pada ruang isolasi rumah sakit pemerintahan di Kota Semarang.

Koordinator Eksternal Pengembang RAMA dari Polines Semarang Eni Dwi Wardihani mengatakan, pihaknya sudah mengembangkan dua versi RAMA dimulai dari April 2020 lalu.

Versi pertama diintroduksi ke Gubernur Jateng Ganjar Pranowo per Juli lalu yang memiliki spesifikasi bobot 28 kg, tinggi 150 cm, lebar 60 cm. Sementara versi kedua diperkenalkan Desember ini dengan ukuran lebih praktis yang dilengkapi torsi motor dan teknologi Internet of Things dari Telkom DXB.

"Kedua versi memiliki fungsi sama yakni melayani pasien secara remote. RAMA mampu mengangkut makanan dan obat-obatan untuk pasien, melaksanakan telemedicine yaitu komunikasi audio visual dokter atau perawat dengan pasien, serta mampu bergerak otomatis atau dikendalikan secara jarak jauh," ujar Eni dalam keterangannya.

Selain Eni, RAMA juga dikembangkan dosen Polines Semarang lainnya, yaitu Bambang Supriyo, Wahyu Sulistyo, Bagus Yunanto, dan Amin Suharjono. Ada juga kontribusi mahasiswa antara lain Abbas Kiarostami Permana, Ainur Rofik, dan Wahyu Hidayat.

Eni melanjutkan robot RAMA dirancang berbentuk rak tiga susun yang bergerak menggunakan roda mecanum empat buah. Rak terdiri tiga susun terdiri, yakni rak bawah untuk tempat makanan, rak tengah (minuman), dan rak atas (obat-obatan). Robot dilengkapi sarana komunikasi audio-visual dua arah sehingga pasien dapat berkomunikasi secara baik dengan petugas medis.

Telkom mengeluarkan jurus inovasi terbarunya dengan mengerahkan Robot Asisten Medis Autonomous (RAMA) untuk menangani COVID-19 di Indonesia.Telkom mengeluarkan jurus inovasi terbarunya dengan mengerahkan Robot Asisten Medis Autonomous (RAMA) untuk menangani COVID-19 di Indonesia. Foto: Telkom

"Robot bergerak dengan kendali jarak jauh menggunakan teknologi radio frequency (RF) sehingga mampu menjangkau jarak cukup jauh. Kelebihan utama robot ini adalah kestabilan karena robot didesain dengan perbandingan tinggi dan lebar badan kecil, sehingga titik berat rendah," ujar Kaprodi Magister Terapan Polines tersebut.

Kelebihan lain, sambung Eni, adalah pemanfaatan mini PC sebagai prosesor utama sehingga mengurangi beban fisik tanpa mengurangi kinerja sistem. Fungsi Mini PC adalah sebagai "mata" bagi robot, sekaligus sebagai sarana komunikasi antara robot dan petugas.

Penggunaan roda mecanum juga disebut memudahkan pengendalian gerakan robot oleh operator. Robot RAMA digerakkan motor tipe mecanum yang mampu bergerak omnidireksional. Prosesor utama robot beruap Arduino Mega yang memiliki cukup fitur baik antarmuka, CPU, dan memori.

I Ketut Agung Enriko, Senior Manager IoT Platform Telkom DXB, mengungkapkan bahwa pihaknya menggunakan platform WebRTC untuk keperluan akses komunikasi video pada robot cerdas tersebut.

Sebagai informasi WebRTC adalah platform video call kode terbuka (open source) sebagai penunjang layanan video call antara tenaga kesehatan dengan pasien yang sedang menjalani isolasi.

"Video call tersebut berjalan tidak menggunakan internet karena sinyal di ruangan-ruangan isolasi sulit dan tidak stabil. Sejauh ini layanan dengan speed saat video call mencapai 100 Mbps," ujar doktor Teknik Elektro Universitas Indonesia tersebut.

Menurut dia, dari sisi akses telekomunikasi, robot RAMA hanya memerlukan investasi dalam pengadaan perangkat WiFi berupa akses poin yang harus banyak dipasang di ruangan isolasi tersebut.

"Inilah keunggulan utama dari robot sejenis yang biayanya mahal karena mayoritas suku cadang harus diimpor. Ini versi sederhana namun fungsinya setara dengan yang lainnya," katanya.

Menurut Enriko, keterbatasan tenaga kesehatan melayani seiring banyaknya korban meninggal dokter dan perawat akibat Corona, maka sangat bisa disiasati dengan kreasi robot buatan yang multifungsi tersebut.



Simak Video "Alat-alat Telkom di Jambi Dicuri Security-Karyawannya Sendiri"
[Gambas:Video 20detik]
(agt/fay)