Di Aceh, Registrasi Prabayar Belum Prioritas
- detikInet
Jakarta -
Meski sudah mulai melaksanakannya, Telkom mengaku tidak memprioritaskan registrasi pelanggan prabayar di Aceh. Masalahnya, pasca bencana tsunami, keberadaan pelanggan saja masih sulit diverifikasi. Demikian pernyataan GM Telkom Andang Ashari saat ditemui di Kandatel Aceh, Jalan SA Mahmud Syach Banda Aceh, Senin (19/12/2005). "Saat ini kita sudah mulai untuk registrasi. Kita masih berusaha semaksimal mungkin untuk melaksanakan keputusan menteri itu. Meski yang kami prioritaskan adalah verifikasi keberadaan pelanggan," kata Andang. Andang mengatakan saat ini Telkom masih berkonsentrasi untuk memulihkan keadaan di Aceh. "Namanya daerah ini juga kondisi bencana. Kami juga tak perlu tutup-tutupi, kami masih berkonsentrasi untuk memulihkan keadaan," ujarnya. Apakah Telkom akan meminta penundaan pelaksanaan registrasi prabayar di Nanggroe Aceh Darussalam (NAD)? "Yang jelas saat ini kami mengerjakan dulu, terlalu dini untuk mengatakan sekarang apakah minta ditunda atau tidak," tukas Andang. Setelah tsunami melanda, tercatat ada 22 Sentral Telepon Otomat (STO) Telkom yang mengalami kerusakan. Dari jumlah itu tercatat 4.624 Satuan Sambungan Telepon (SST) juga mengalami kerusakan. Sedangkan hub transmisi yang rusak 16. Kerugian total Telkom mencapaiRp 161,88 miliar. "Sebelum tsunami, total connected line mencapai 98.984. Saat ini proses recovery masih terus berlangsung dan sedikitnya sudah ada pelanggan baru yakni 2.468 telepon wired line dan 26.400 wireles," papar Andang. Total pelanggan wireles mencapai 30.000. Menurut Ketua Kandatel Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD), Syaiful Kamal, selama perbaikan, Telkom banyak mengalami gangguan. Seperti hilangnya 18 tiang telepon yang baru dipasang di daerah Lhok Nga dan juga pencurian kabel serat optik di daerah Calang. "Memang tidak terlalu banyak, tapi dampaknya besar sekali untuk pelanggan. Karena akhirnya mereka yang tidak bisa menelepon," ujar Syaiful. Syaiful mengklaim, revenue per unit Telkom Flexi di Aceh adalah yang tertinggi di kawasan Sumatera. "Memang ada bad debt, tapi itu masih cukup terkendali," kata Syaiful. Dari pelanggan Flexi di Aceh, 60 persennya adalah pelanggan prabayar. Sedangkan 40 persen sisanya adalah pascabayar.
(wicak/)