Internet Cepat Buat Apa?

Kolom Telematika

Internet Cepat Buat Apa?

Lucky Sebastian - detikInet
Rabu, 11 Des 2019 17:53 WIB
Ilustrasi internet cepat. Foto: Istimewa
Jakarta - Sampai saat ini masih banyak orang mengira 5G hanya jaringan yang mirip 4G, tetapi lebih kencang. Sebenarnya, 5G akan lebih dari itu. Kehadirannya akan mendisrupsi banyak bidang di dunia, sehingga negara-negara saling bersaing menggelar dan mengadopsinya secepat mungkin.

5G akan menjadi tulang punggung ekosistem yang baru. Memang banyak yang sedikit takut, kehadiran 5G dan artificial intelligence (AI) atau kecerdasan buatan, akan mengambil atau mengubah banyak pekerjaan dari banyak orang yang sekarang ada.

Sebenarnya kehadiran 5G tidak hanya mengambil pekerjaan, tapi juga akan menghasilkan pekerjaan-pekerjaan baru. Untuk memahaminya lebih mudah, mari kita lihat saat negara kita mulai mengadopsi 4G.

Sebelum 4G, komputer dan modem di rumah banyak menjadi andalan, dan banyak bidang-bidang dot com dihasilkan termasuk mereka yang awal-awal masuk ke penjualan via online.


Tetapi bidang tersebut tidak lama bertahan. Masalahnya karena akses terhadap komputer dan modem di rumah atau kantor, tidak banyak dimiliki sebagian besar orang.

Ketika 4G dimulai, diiringi adopsi besar-besaran smartphone, kita melihat bidang yang sama atau mirip, ternyata berhasil. Tidak banyak yang membayangkan sebelumnya kalau 4G bisa memberi banyak lahan pekerjaan baru, seperti yang kita saksikan sekarang dengan kehadiran bidang ride-hailing seperti Gojek dan Grab.

Internet Cepat Buat Apa?Foto: Lucky Sebastian/detikINET



Dengan mudah kita bisa dijemput ke rumah atau kantor dengan mobil dan motor, bisa membeli makanan tanpa harus repot-repot keluar, bahkan layanan asisten rumah tangga hingga salon bisa dipanggil, dan banyak orang bisa memiliki pekerjaan karena bidang ini terbuka, hanya bermodal koneksi data dan smartphone.

Belanja online menjadi bidang berikutnya yang ramai, tiba-tiba semua penjual, dari kelas supermarket besar, toko kelontong, hingga mereka yang tidak memiliki toko sekalipun bisa mengambil bagian yang sama.

Semua ini tidak mungkin terjadi tanpa kehadiran 4G. Apakah 4G tidak menghilangkan banyak pekerjaan orang lain? Banyak, mereka yang tidak ikut arusnya memang tergerus, seperti kita saksikan beberapa mal menjadi sepi dan tutup, pengemudi angkutan umum lawas mendapat persaingan sengit, tengkulak merasa di bypass dan lain sebagainya, yang memang tidak bisa dihindari.

Tetapi bidang usaha UMKM dan usaha kecil seperti pedagang bakso sekalipun, mendapat manfaat dari penjualan berbasis online dan pembayaran digital. Tinggal dipertimbangkan, mana yang lebih besar manfaatnya, mereka yang diuntungkan, atau mereka yang tergerus karena sulit berubah.

Startup dan developer dengan ide-ide kreatif baru tumbuh, karena ekosistem yang berjalan baik ini. Semua berlomba-lomba membuat terobosan, mempermudah sistem dengan bantuan aplikasi.

Siapa yang mengira dulu kalau pekerjaan berbasis coding ini akan menjadi sangat penting dan akan segera menjadi mata pelajaran wajib siswa di sekolah.

Siapa yang dulu berpikir bahwa sekarang kita bisa belajar berbagai studi, bahkan mendapat sertifikasi dengan menontonnya langsung lewat streaming di YouTube dan layanan video lainnya.

Dan 5G akan melakukan disrupsi yang sama, bahkan lebih besar dari itu. Ini alasan mengapa negara kita juga harus ikut di dalamnya, agar tidak tertinggal dan bisa bersaing, karena negara-negara akan menggunakan standar baru.

Dua tahun lalu saat 5G mulai resmi digaungkan dan ide-ide besar yang bisa dihasilkan oleh 5G masih banyak berupa konsep, saat ini sudah mulai memperlihatkan bentuk konkritnya.

Di acara Snapdragon Summit yang baru digelar Qualcomm di Hawaii, salah satu keynote speaker berasal dari provider telekomunikasi Verizon. Mereka memaparkan apa yang Verizon sudah kerjakan secara nyata dengan 5G.

Internet Cepat Buat Apa?Foto: Lucky Sebastian/detikINET


Hal yang menonjol dari operator ini, bukan sekadar menjadi penyedia layanan, tetapi mereka juga memiliki beberapa lab 5G aktif di beberapa kota negara bagian, untuk menggali potensi yang bisa dijalankan dengan kehadiran 5G.

Ada lab yang fokus pada big data, lab lainnya dengan gaming, lab berikutnya mengenai kerja sama dengan pemerintah dan kota-kota, ada lab untuk media, keuangan, edukasi, hingga robotik, kesehatan, dan IoT. Meski baru mulai menggelar 5G setahun yang lalu, banyak hasil dari lab 5G tersebut yang sudah bisa diimplementasikan.

Ada dua bagian besar teknologi terapan 5G ini untuk konsumen langsung dan untuk perusahaan atau enterprise. Untuk konsumen, kecepatan yang dibawa jaringan 5G dan latensi yang kecil, memungkinkan operator menawarkan cloud gaming.

Biasanya untuk game-game serius, kebanyakan pengguna memilih game di PC atau konsol karena kemampuan komputasinya. Komputasi sebesar dan serumit ini masih menjadi pembatas di ponsel, apalagi ponsel memiliki banyak segmen. Ada ponsel high-end, mid-end dan low-end, di mana setiap segmen ini memberikan pengalaman bermain game yang berbeda.

Dengan cloud gaming, seluruh komputasi gaming yang rumit sekalipun bisa dilakukan di server, dan smartphone atau ponsel 'hanya' menjadi layar dan gamepad untuk mengontrolnya. Dengan koneksi 5G yang cepat dan latensi yang kecil, permainan yang sebenarnya diolah di server, seolah-olah benar dimainkan di smartphone.

Layanan gaming seperti ini juga sudah diluncurkan oleh Google, yang dinamai Stadia. Dalam waktu tidak lama lagi, kita akan melihat berbagai layanan yang sama ditawarkan oleh banyak pihak.

UGC atau user generated content, sekarang ini sudah banyak dilakukan. Contohnya, citizen journalism, laporan langsung saat traveling, video streaming saat bermain games, memasak, bahkan diiringi interaksi antara user pembuat konten dengan pemirsanya.

Jaringan 5G akan mengeskalasi konten yang bisa diberikan oleh pembuatnya, baik dari sisi video resolusi tinggi, multiple camera, kolaborasi, dan lain sebagainya.

Layanan video streaming, seperti Netflix, YouTube, HBO, Disney+ dan lain-lain, sekarang ini sudah menggeser siaran televisi standar, bahkan TV kabel. Konten ini bisa dinikmati di mana saja.

Bahkan beberapa konten bisa dinikmati interaktif dimana pemirsa menentukan pilihan jalan ceritanya yang berbeda ending, seperti yang dilakukan Netflix di salah satu tayangannya. Layanan 5G akan membuat konten seperti ini tampil dengan resolusi tinggi, bukan lagi sekedar HD seperti yang umum sekarang, tetapi hingga 8K.



Acara olahraga yang diminati, bisa dinikmati bukan hanya dari satu kamera saja, tetapi pemirsa bisa memilih untuk melihat dari sisi kamera yang lain, bisa memilih komentator yang disukainya, bisa menonton ulang gol dari sudut yang dikehendakinya dengan gerak lambat, dan lain sebagainya.

Tak sampai di situ, acara-acara kelas dunia seperti Olimpiade, di mana segala cabang bermain dalam waktu bersamaan, akan membuat pemirsa stasiun TV tertentu yang melakukan streaming, bisa memilih menonton cabang yang disukainya, bukan lagi sesuai jadwal yang dipilih stasiun TV.

Sebuah konser, bisa ditonton dari berbagai sudut, bahkan dari pandangan penyanyinya, dan keriuhan di belakang panggung. Pengalaman menonton yang berbeda ini, di mana pemirsa menentukan apa yang ingin mereka saksikan membuat hiburan bisa lebih kaya dalam konten dan imersif.

Jangan lupakan hal lebih besar dengan kehadiran 5G untuk perusahaan atau enterprise. Efeknya bisa dirasakan untuk kehidupan orang banyak. Misalnya di bidang kesehatan, konsep tindakan operasi yang bisa dilakukan dari jarak jauh, dari kota yang jaraknya ratusan bahkan ribuan kilometer, sudah mendapat izin resmi pemerintah.

Keadaan darurat ketika operasi perlu dilakukan seorang atau team dokter ahli yang tidak dimiliki rumah sakit di sebuah kota, bisa dilakukan dari kota lain dengan bantuan peralatan robotik dengan koneksi 5G yang minim latensi.

Robot akan melakukan gerakan sesuai yang dilakukan dokter di ujung kota lain yang melihat pasien dari kacamata virtual. Tanpa latensi yang minim di bawah 10 ms, operasi seperti ini tidak mungkin dilakukan karena gerakan robotik akan menjadi terlambat atau tidak sinkron dengan tangan sang dokter.

Apalagi? Coba lihat penjualan online yang sudah mulai menyaingi supermarket atau toko-toko. Tetapi, tetap saja ada pengalaman berbeda untuk berbelanja langsung, yang masih banyak peminatnya.

Di rak yang penuh makanan dalam kemasan dan berbagai merek, banyak orang menghabiskan waktu untuk melihat kandungan dari makanan yang ada di dalamnya. Ini menyita banyak waktu, terutama bagi mereka yang alergi dan harus hati-hati dengan kandungan makanan tertentu seperti yang mengandung kacang atau olahan daging tertentu.

Dengan 5G dan AI, cara memilih makanan kemasan dengan cepat bisa melalui kamera smartphone yang diarahkan ke rak, dan pada layar akan tampil kotak yang tidak sesuai dengan pilihan pelanggan.

Smart retail juga bisa mentracking bagaimana pelanggan tertarik melihat produk di posisi mana, sehingga sebuah produk bisa ditempatkan di tempat yang lebih tepat untuk meningkatkan penjualan.

Di bidang transportasi, kita sudah mulai dikenalkan dengan mobil otonom, yang bisa berjalan lebih baik dengan jaringan 5G untuk pengamatan yang lebih baik dan eksekusi yang cepat.

Bagaimana dengan transportasi, baik transportasi umum, pribadi, hingga pengiriman barang? Apa jadinya jika kendaraan transportasi ini dilengkapi banyak sensor dan otomatis saling berkomunikasi lewat jaringan 5G?

Bayangkan, mereka bisa berkomunikasi untuk saling menjaga jarak, menentukan siapa yang boleh menyusul, jalur yang harus ditempuh, taat terhadap rambu, saling berbagi info kemacetan, jalur alternatif, dan mengetahui ada gangguan apa di depan. Hasilnya, bisa jadi jalanan yang lebih teratur, pengemudi yang lebih taat aturan, kemacetan yang berkurang, dan efisiensi bahan bakar.

Industri akan mendapat dampak yang besar dari 5G, karena industri yang senantiasa harus berpikir tentang efisiensi dan hasil yang optimal. Makanya kita sering melihat industri selalu berpikir tentang di mana harus berinvestasi, dan di mana daerah yang memiliki pekerja terlatih, yang bisa menghasilkan pekerjaan yang optimal.

Sudah menjadi hal biasa, pemilik brand berada di sebuah negara, dan pekerjaan industri dilakukan di negara lain. Dengan adanya 5G, bisa saja pemilik brand dan tenaga ahlinya bekerja secara remote, mengendalikan banyak aspek pekerjaan di pabrik yang berada di negara lain secara real time.

Industri-industri besar seperti perakitan otomotif, elektronik, dan lain sebagainya sudah menggunakan ban berjalan dan robotik, untuk hasil yang lebih terjaga kualitasnya, berjalan cepat, dan dalam jadwal yang rapat.

Bagaimana jika salah satu robot pada ban berjalan ini mengalami kerusakan? Kebanyakan jika salah satu bagian dari ban berjalan ini ada bagian yang tidak bekerja semestinya, maka seluruh proses bisa terganggu.

Dengan jaringan 5G dan AI, lengan-lengan robot ini bisa saling berkomunikasi untuk saling antisipasi dari mempercepat proses, hingga mengalihkan proses dan antisipasi ketika salah satu bagian lengan ini rusak, tanpa harus menghentikan proses yang sedang berjalan.

Analisis dari setiap pergerakan robot ini secara real time, bisa jadi malah akan mengetahui di mana proses akan terganggu, bahkan sebelum gangguan ini menjadi nyata.

Beberapa kasus di atas baru dilaporkan sebuah operator di Amerika sebagai pemanfaatan atas 5G yang sudah mereka kembangkan dan lakukan dalam waktu yang singkat sejak 5G digelar.

Internet Cepat Buat Apa?Foto: Lucky Sebastian/detikINET


Jika dirunut ke lebih banyak operator dan pengembang lain, kemungkinan kita akan menemukan berbagai pemanfaatan yang menarik dari kehadiran 5G. Mungkin 2-3 tahun ke depan, kita akan melihat disrupsi yang akan dirasakan banyak orang karena kehadiran 5G, membuka mata kita tentang kegunaan internet yang cepat.

Jaringan 5G akan memodernisasi dan mengakselerasi pemanfaatan teknologi bagi sebuah negara. Smart city atau kota pintar yang saling terhubung yang menjadi salah satu fokus negara kita untuk dikembangkan, akan bisa lebih cepat terwujud dengan kehadiran jaringan generasi kelima ini.



Masalahnya saat smart city dikembangkan, selain mencakup database dan otomasi, IoT dari sensor dan peralatan yang membantu jalannya smart city akan sangat banyak.

Koneksi dan pertukaran data yang masif ini tidak bisa lagi ditangani oleh jaringan 4G. Akan sangat lambat prosesnya dan tidak bisa mengkoneksi semua sensor dalam sebuah area yang padat.

Sebagai gambarannya, dalam 1 kilometer persegi, jaringan 4G hanya bisa menyambung maksimum 100 ribu koneksi, sementara 5G bisa 1 juta koneksi. Kehadirannya juga akan menjadi pertimbangan investasi dari negara lain, dan menjadi penggerak untuk mengatasi banyak masalah nyata yang dihadapi di dunia sekarang ini, dan tentu saja masalah-masalah yang negara kita masih hadapi untuk maju lebih jauh.

Jadi, melihat 5G bukan lagi sekadar koneksi smartphone. Kita berharap, jangan sampai negara kita kehilangan kesempatan, tertinggal, dan tidak bisa bersaing dengan negara-negara tetangga, karena terlalu lambat mengadopsi teknologi ini.


*) Lucky Sebastian merupakan pendiri komunitas teknologi Gadtorade. Pria yang tinggal di Bandung ini sejatinya adalah seorang arsitek. Namun antusiasme yang tinggi akan gadget membawanya menjadi pengamat dan gadget enthusiast.

Simak Video "Miliarder Mukesh Ambani Gandeng Qualcomm Garap 5G di India"
[Gambas:Video 20detik]
(rns/rns)