Peluncuran Satelit Telkom-2 Kembali Tertunda
- detikInet
Jakarta -
Untuk kesekian kalinya, satelit pengganti Palapa B4, Telkom-2, belum bisa mengudara. Setelah sebelumnya penundaan terjadi karena adanya kerusakan pada peralatan servomotor hydraulic roket pendorongnya, kini ground equipment pada sektor launch table yang digunakan untuk pengisian bahan bakar kendaraan peluncur, yang jadi biang keladinya.Penundaan jadwal peluncuran itu dilakukan setelah tim teknis Arianespace, perusahaan penyedia jasa peluncuran satelit berbasis di Prancis yang menangani Satelit Telkom-2, PT Telekomunikasi Indonesia Tbk., dan DirectTV mengadakan pertemuan untuk membahas dan mengkoordinasikan posisi akhir peluncuran. Pertemuan itu antara lain membahas persiapan roket peluncur Ariane-5ECA bernomor flight 167, kesiapan tim kru di stasiun bumi, dan kondisi cuaca setempat."Seharusnya Telkom-2 sudah bisa meluncur pukul 06.40 pagi ini, tapi terpaksa kita tunda lagi minimal satu kali 24 jam setelah mendapat kabar ada masalah pada ground equipment dari pihak Arianespace pada pukul 02.50 pagi tadi," jelas Arwin Rasyid, Direktur Utama Telkom di Stasiun Pengendali Utama (SPU) Satelit Telkom-2, Cibinong, Jawa Barat, Minggu (13/11/2005).Semula, pada hari Minggu ini (13/11/2005) waktu Indonesia atau Sabtu (12/11/2005) waktu Prancis, Telkom memang sudah merencanakan peluncuran Satelit Telkom-2. Bahkan, rencananya, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dikatakan akan turut hadir untuk menyaksikan peluncuran satelit itu di SPU Cibinong.Sedangkan pihak Arianespace menganggap masalah teknis penyebab penundaan tersebut, hanyalah sebagai masalah kecil saja."Masalah ini hanyalah minor problem. Saat ini di Kourou (Guyana, Prancis / tempat peluncuran Telkom-2-red) sendiri, ada beberapa perbaikan yang harus diselesaikan. Kami ingin memastikan misi ini berhasil," ujar Richard Bowles, Direktur Arianespace untuk Wilayah ASEAN.Menurut Richard, peluncuran ini merupakan yang ke-168 bagi Arianspace. Hal itu membuat mereka mengklaim sudah berpengalaman dengan masalah yang biasa terjadi pada peluncuran satelit."Untuk mencapai tingkat kehandalan yang tinggi, dibutuhkan waktu yang cukup untuk memeriksa setiap kemungkinan masalah teknis yang timbul. Penundaan ini demi meminimalisasikan risiko. Jadi perhitungan mundurnya harus distop dulu sampai masalah ini diperbaiki," jelas Richard.Dengan ditundanya peluncuran ini, berarti Telkom masih harus menangguhkan perpindahan penggunaan satelit, yang terhubung ke-10 transponder sewaan dari China Star dan Upstar Hong Kong, ke satelit Telkom-2. Untuk menyewa transponder itu, Telkom harus merogoh kocek sebesar US$ 1 juta per tahun untuk per satu transpondernya, dan sewanya harus dibayarkan dengan hitungan per bulannya.Satelit Telkom-2 dibuat oleh Orbital Sciences Corporation dari AS dan akan beroperasi pada slot orbit 118 bujur timur dengan umur operasi 15 tahun. Untuk satelit itu, Telkom sendiri mengeluarkan investasi total sebesar US$ 170 juta. Investasi itu mencakup biaya pembuatan sebesar US$ 73 juta, untuk jasa peluncuran sebesar US$ 63 juta, untuk jasa asuransi Jasindo sebesar US$ 25,5 juta, dan sisanya US$ 8,5 juta untuk membayar jasa konsultan dari Kanada.Satelit yang memiliki 24 transponder itu, memungkinkan untuk dikomersialkan sampai tingkat regional karena coverage-nya sudah diperluas untuk menjangkau seluruh ASEAN, juga ke India dan Ghuam. Rencananya, 70 persen dari total kapasitas transponder Telkom-2, akan dikomersialkan kepada pihak lain. Sedangkan Telkom sendiri mengatakan hanya akan mengoptimalkan 30 persen dari kapasitas satelit yang ada untuk memenuhi kebutuhan internal. Sedangkan untuk penggunaan satelit secara komersial akan mencakup transmisi backbone, broadcast (siaran televisi dan radio), teleconference, dan jaringan akses (internet dan pendidikan jarak jauh).Kompensasi PenundaanDengan tertundanya peluncuran ini, berarti Telkom harus 'gigit jari' yang kedelapan kalinya sejak jadwal semula pada Januari 2005. Setelah Januari, peluncuran Satelit Telkom-2 ditunda ke April, Juni, September, Oktober, dan November. Pengunduran peluncuran itu memang tidak menimbulkan kerugian secara material. Tetapi, Telkom harus menyewa 6 transponder dari Satelit China Star dan 4 transponder dari Upstar Hong Kong, karena Satelit Palapa B4, yang digantikan Telkom-2, sudah berakhir masa operasinya sejak Juli 2003."Penundaan tersebut sejauh ini tidak menimbulkan kerugian bagi Telkom. Kita hanya seperti punya gedung sendiri, tapi masih harus sewa gedung orang. Mungkin kompensasinya umur (masa orbit-red) satelit bertambah jadi 16 tahun dan bahan bakarnya ditambah oleh mereka," jelas Arwin.Arwin juga mengakui, Telkom tidak menutup kemungkinan melakukan kerjasama dengan pihak penyedia jasa peluncuran satelit dari negara lain apabila Arianespace tidak berhasil memenuhi klausul kontrak perjanjian."Rusia dan Cina juga pernah menawarkan kepada kami. Yang pasti, opsi kami semakin luas ke depannya," pungkas Arwin.Keterangan Foto: Arwin Rasyid, Dirut Telkom (kiri), serta Richard Bowles, Direktur Arianespace untuk Wilayah ASEAN (kanan).
(ketepi/)