Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
'Indonesia Jangan Jadi Hutan Menara'

'Indonesia Jangan Jadi Hutan Menara'


- detikInet

Jakarta - Indonesia diharapkan bisa menerapkan infrastruktur satu menara Base Transceiver Station (BTS) untuk beberapa operator. Kalau tidak, bisa-bisa Indonesia menjelma jadi 'hutan menara'. Hal itu diungkapkan Asosiasi Pengembang Infrastruktur Menara Telekomunikasi (Aspimtel). Aspimtel mengusulkan regulator pusat dan daerah bisa menjadikan menara bersama sebagai sebuah kebijakan. "Dengan menggunakan satu BTS secara bersama-sama oleh operator, hal itu akan menghindari Indonesia jadi hutan menara," ujar Ketua Umum Aspimtel, Sakti Wahyu Trenggono, di Gran Melia, Jakarta, Selasa (15/11/2005). Kondisi saat ini, menurut Sakti, operator telekomunikasi masih terkesan berjalan sendiri-sendiri. "Pendirian BTS oleh setiap operator, secara industri itu pemborosan," ujar Indra Gunawan, Sekjen Aspimtel. "Namun, operator biasanya ogah tumpang tindih memakai BTS bersama," Indra menambahkan. Kerap kali dalam satu wilayah ada 5-10 menara dari berbagai operator berbeda yang letaknya sangat berdekatan. Selain tidak efisien, hal itu tidak sedap dipandang mata. "Dengan menggunakan satu menara oleh beberapa operator, maka biaya pengadaan infrastruktur telekomunikasi dari tiap operator bisa ditekan. Tidak diperlukan dibangun sepuluh menara di satu daerah hanya karena ada sepuluh operator. Cukup satu menara untuk semua operator," Sakti menandaskan. Kebutuhan BTS operator pada 2007 diperkirakan mencapai 43 ribu. Saat ini, 2005, operator sudah memiliki 20 ribu tower. "Selama dua tahun ke depan, peningkatan bisa meningkat dua kali lipat," ujar Sakti. Metode menara terpadu ini, ujar Indra, telah mendapatkan sambutan baik dari regulator. "Di regulator, Menkominfo sangat mendukung hal itu guna percepatan pembangunan. Contohnya untuk operator baru seperti WIN dan Natrindo yang dalam waktu singkat bisa menyewa seribu tower," Indra. "Saat ini sudah lima operator yang bekerjasama dengan Aspimtel. Yaitu, Telkom, Telkomsel, Excelcomindo, Mobile-8, dan WIN," tutur Sakti. Tahun depan, Sakti memperkirakan,Lippo Telecom akan ikut bergabung.Menurut Sakti, investasi BTS operator bisa mencapai Rp 700 juta hingga Rp 1 miliar. Hal itu belum termasuk listrik dan perawatan, sedangkan dengan BTS terpadu operator diperkirakan bisa menghemat hingga 30 persen. Aspimtel dibentuk oleh delapan pengembang BTS: Protelindo, Pandu Sarana Global, Wahana Lintassentral Telekomunikasi, Indonesian Tower (Solusindo), Bali Telecom, Comet Consortium, Telcentec Indonesia, Deltacomsel Indonesia. (wicak/)







Hide Ads