Selasa, 29 Okt 2019 06:07 WIB

Panjat Pohon Demi WhatsApp Tinggal Kenangan

Fino Yurio Kristo - detikInet
Foto: XL Foto: XL
Maumere - Nihil sinyal di daerahnya membuat penduduk desa Aewora harus berjuang untuk mendapatkan layanan telekomunikasi. Sampai ada istilah pohon sinyal dan batu sinyal.

Meski sinyal belum masuk, warga Aewora sudah cukup banyak yang punya smartphone, kira-kira satu rumah memiliki satu ponsel. Untuk berkomunikasi, mereka harus mencari koneksi yang hanya ada di titik tertentu, termasuk di bebatuan atau pepohonan.


"Pohon sinyal itu kalau lewat situ hape bunyi. Jadi di titik tertentu berhenti kalau dapat sinyal. Bisa jalan sampai 2 kilometer dulu baru ada sinyal," ujar Anton David Dalla, sesepuh di desa tersebut.

Hal senada diakui Safira, salah seorang pelajar di sana. Ia harus jauh mencari sinyal untuk menikmati berbagai aplikasi di smartphone-nya.

"Kalau dapat sinyal 2 kilometer dari sini baru bisa Facebook atau WA. Tapi kalau sudah di sini tak ada sinyal, paling buat main game ponselnya," tutur dia.

Panjat Pohon Demi WhatsApp Tinggal KenanganAnton David Dalla. Foto: Fino Yurio Kristo/detikINET


Anton pula yang coba memperjuangkan sinyal bisa masuk ke desa Aewora. Sejak tahun 2010, dia sudah membuat proposal dan diserahkan ke pihak pemerintah maupun swasta agar membangun BTS di wilayah pelosok itu.

Pengalaman pahit pun sempat dirasakannya. Pernah ada yang menjanjikan membangun menara BTS sampai dia menyerahkan lahan. Akan tetapi janji itu hanya omong kosong yang tak pernah jadi kenyataan.

Tahun 2019 ini akhirnya menjadi waktu keberuntungan bagi desa Aewora. Perjuangan Anton mendapat perhatian dari pemerintah, hingga kemudian tim dari Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (BAKTI) datang melakukan survei.

BAKTI mempersiapkan dari sisi lahan sampai power dan XL Axiata membangun jaringan. Proses pengerjaan memakan waktu sekitar seminggu, sampai akhirnya BTS 4G di desa Aewora telah diresmikan.

Panjat Pohon Demi WhatsApp Tinggal KenanganBTS di desa Aewora. Foto: Fino Yurio Kristo/detikINET


BTS program Universal Service Obligation(USO) tersebut telah beroperasi selama seminggu, memancarkan sinyal 4G. Pihak XL pun telah memberi pelatihan manfaat internet pada warga dan juga mempersiapkan penjualan SIM card.

"Sungguh terharu. Bisa WA ponakan dari Jakarta, Kalimantan. Ini bukan kata lain tapi merdeka. Dulu belum seutuhnya karena listrik sudah ada, tapi sinyal belum ada," cetusnya.


Untuk diketahui, desa Aewora berada di Kecamatan Maurole, Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur (NTT). Desa nelayan terpencil ini lokasinya sekitar 75 kilometer dari Maumere dengan jalanan sempit berliku yang tak sepenuhnya dalam kondisi baik.

Panjat Pohon Demi WhatsApp Tinggal Kenangan


Simak Video "XL Axiata Getol Bangun Jaringan di Daerah Pelosok"
[Gambas:Video 20detik]
(fyk/afr)