Selasa, 13 Agu 2019 16:06 WIB

Huawei Mau Bikin Pabrik Senilai Rp 11,4 Triliun di Brasil

Anggoro Suryo Jati - detikInet
Foto: Reuters Foto: Reuters
Jakarta - Huawei ancang-ancang membangun pabrik senilai USD 800 juta atau sekitar Rp 11,4 triliun yang berlokasi di Sao Paulo, Brasil.

Pabrik ini dibangun dengan tujuan untuk meningkatkan kehadiran mereka di Amerika Selatan setelah masuk "daftar hitam" pemerintah Amerika Serikat, demikian dikutip detikINET dari Reuters, Selasa (13/8/2019).

Dalam perjalanannya ke China, Gubernur Sao Paulo Joao Doria yang ditemani oleh eksekutif Huawei mengatakan kalau perusahaan asal China itu tengah bersiap-siap membangun pabrik untuk memenuhi permintaan di Brasil, terutama karena lelang spektrum 5G di negara itu akan segera dilakukan, tepatnya pada Maret 2020.

Di pabrik tersebut Huawei diperkirakan akan memproduksi smartphone. Dan produksi tersebut, menurut pemerintah setempat, diharapkan bisa untuk memenuhi permintaan dalam negeri dan juga luar negeri.




"Tergantung dari performa dari operasi smartphone di pasar lokal, Huawei akan mempertimbangkan untuk membangun pabrik di Sao Paulo dalam waktu dekat," tulis Huawei dalam pernyataannya.

Huawei sendiri sudah beroperasi di Brasil selama 21 tahun, dan mereka pun sudah mempunyai satu pabrik di negara tersebut. Di pabrik tersebut mereka memproduksi perangkat infrastruktur telekomunikasi, dan mempekerjakan 2.000 pekerja.

Sementara untuk pabriknya yang baru ini diperkirakan bisa membuat 1.000 lapangan kerja. Keputusan pembangunan pabrik itu akan ada dalam beberapa bulan mendatang, dan dana USD 800 juta itu akan diinvestasikan dalam jangka waktu tiga tahun menjelang lelang spektrum 5G tersebut.




Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump memaksa para pemerintah di seluruh dunia untuk memblokir Huawei, alasannya adalah peralatan jaringan buatan Huawei rentan disusupi oleh pemerintah China dan bisa dipakai untuk aksi spionase.

Namun tampaknya pemerintah Brasil tak berencana mengikuti anjuran tersebut, seperti yang dinyatakan oleh Wakil Presiden Brasil Hamilton Mourao pada Juni lalu.


(asj/krs)