Kolom Telematika
'Kriing... Apa Kabar' dari Sabang sampai Merauke
- detikInet
Jakarta -
"Sabang hadir, Menado hadir,...Merauke hadir." Begitu pekik beberapa wakil dari berbagai daerah di Indonesia dalam sebuah iklan sebuah operator telekomunikasi bergerak (seluler). Hadir berarti layanan telekomunikasi seluler sudah menjangkau daerah mereka. Ya, setelah satu dasawarsa, layanan telekomunikasi seluler kini menjangkau kota-kota besar di Indonesia mulai dari Sabang di Aceh hingga Merauke di Papua.Jarak yang jauh kini bukan lagi kendala bagi orang untuk berkomunikasi. Mereka yang berada di Aceh dapat berkomunikasi dengan keluarga atau mitra bisnisnya di Papua, dua pulau paling ujung dari Nusantara, dalam waktu yang sama. Orang tidak perlu lagi repot-repot mengirim kartu lebaran ke saudaranya nun jauh di seberang pulau. Cukup dengan layanan short message services (SMS) yang berbiaya murah, pesan langsung terkirim. Tua maupun muda, orang kantoran atau ibu rumah tangga, remaja hingga sopir asyik menggunakan layanan telepon seluler. Praktis, hemat waktu, dan hemat biaya karena orang dapat berkomunikasi di mana saja, kapan saja, dengan siapa saja.Industri seluler menjadi solusi bagi pemenuhan hak telekomunikasi masyarakat. PT Telkom yang sudah berpuluh tahun membangun infrastuktur telekomunikasi ternyata baru menyediakan 9 juta satuan sambungan telepon (SST). Dengan jumlah penduduk lebih dari 215 juta, kepadatan (densitas) telepon tetap Indonesia hanya 4 persen. Teledensitas ini di bawah rata-rata dunia yang mencapai 10 persen, bahkan jauh di bawah Singapura yang pada 2002 sudah mencapai 46,6 persen.Repotnya lagi, kepadatan telepon tidak merata di seluruh negeri. Teledensitas di Jakarta mencapai 35 persen, sedangkan di daerah pelosok hanya 0,2 persen. Bahkan dari 66.788 desa di Indonesia, 64,4 persen belum tersentuh telekomunikasi dasar. Nah dalam pertumbuhan telepon tetap yang seperti berjalan di tempat, pertumbuhan industri seluler justru melesat cepat dalam waktu singkat. Jumlah pelanggan telepon seluler melonjak dari 156 ribu pada akhir 1995 menjadi sekitar 11,5 juta pada akhir 2002 dan diperkirakan lebih dari 30 juta pada akhir 2005. Selain pembangunan infrastuktur telepon tetap yang lambat, melonjaknya pertumbuhan telepon seluler karena kemudahan mendapat kartu prabayar dan voucher isi ulang di pasar serta keragaman layanan yang ditawarkan industri seluler. Industri seluler sebenarnya sudah masuk ke Indonesia pada 1980-an dalam bentuk telepon seluler analog yang lebih dikenal dengan advanced mobile phone system (AMPS). Kemudian, Satelindo mulai masuk pada 1990 dengan menjual terminal sendiri dengan kartu SIM global system for mobile communications (GSM)-nya.Secara komersial, dua perusahaan telekomunikasi pelat merah-Telkom dan Indosat-mengembangkan dan menjual telekomunikasi berbasis GSM melalui saluran distribusi para pedagang seluler. Awalnya pada 1995, bisnis telekomunikasi seluler berkembang dari Batam, Medan, kemudian menyusul ke kota-kota lain.Setelah sepuluh tahun, industri seluler didominasi oleh tiga pemain utama: Telkomsel, Indosat, dan Excelcomindo Pratama (masuk pada 1997). Di luar itu, ada operator GSM lainnya (Natrindo) serta operator code division multiple access (CDMA), yaitu PT Telkom (Telkom Flexi), Bakrie Telecom (Asia), dan FrenKomselindo (Mobile-8). Telkom mengembangkan Flexi yang fixed nirkabel karena tidak mampu mengembangkan jaringan kabel yang cepat dan merata di tanah air. Teknologi dan Perang HargaPerkembangan industri seluler begitu pesat setelah hadir UU No.36/1999 tentang Telekomunikasi yang mendorong kompetisi penyelenggaraaan telekomunikasi nasional. Bisnis telekomunikasi tidak lagi dimonopoli satu dua pemain-yang dijalankan selama bertahun-tahun hingga menyebabkan pembangunan infrastuktur berjalan lambat-tapi bergeser ke kompetisi. Liberalisasi industri telekomunikasi mengundang masuk investor asing untuk terjun ke bisnis dengan pasar gemuk ini. Sebagian saham operator telepon seluler kini dimiliki investor dari Malaysia dan Singapura.Kekuatan modal dari mancanegara yang begitu besar mendorong pembangunan infrastuktur yang lebih cepat. Para operator juga terus mengikuti perkembangan teknologi seluler. Pada generasi pertama (G1) di tahun 1980-an, layanan komersial seluler pertama adalah sistem analog yang bersifat lokal dan pelayanan terbatas. Sepuluh tahun kemudian pada 1990 munculah GSM sebagai generasi kedua yang menggunakan sistem digital. Namun karena jarak masih kendala, GSM memerlukan banyak menara base transceiver station (BTS) yang memiliki daya pancar 35 kilometer.Para pemain kini menyongsong generasi ketiga (G3) seluler Indonesia. Dengan mengandalkan lisensi frekuensi yang dimiliki, operator CDMA dapat meningkatkan kemampuan untuk bisa mencapai kecepatan hingga 3G. Sementara untuk menyelenggarakan komunikasi 3G, jaringan GSM membutuhkan alokasi frekuensi yang lebih besar. Namun, CDMA masih kalah pamor dari GSM karena lebih 1.200 operator GSM di seluruh dunia mengikat kerjasama roaming. Persaingan sistem ini akan menguntungkan konsumen untuk mendapatkan alternatif yang murah dan menawarkan fasilitas lebih baik.Kelak, jika jaringan telekomunikasi bergerak telah bersifat global, tentu konsumen akan lebih banyak menikmati keuntungan. Telepon seluler dapat digunakan di setiap negara karena kartu SIM dikenal di seluruh jaringan di dunia. Selain itu, kecepatan akses data yang tinggi untuk dapat mengakses internet dan tukar-menukar data, serta layanan multimedia yang semakin lengkap dan baru, seperti hiburan interaktif, global positioning systems (GPS), dan video conference.Peluang bisnis jasa telekomunikasi seluler memang masih besar, tapi tantangan di masa depan juga makin berat. Ancaman datang dari berkembangnya teknologi internet telepon (VoiP) dan WiFi yang didasari oleh teknologi internet yang murah dan mudah dioperasikan. Pembebasan frekuensi WiFI pada awal Januari 2005 telah mendorong perusahaan dan warnet memperoleh akses internet 24 jam.Jika sama-sama menggunakan sistem GSM atau CDMA, para operator tentu harus memilih strategi yang jitu dalam persaingan industri seluler yang amat ketat. Para operator berlomba memperluas zona lokalnya, meningkatkan kualitas jaringan, dan tentu saja agresif dalam merangsek pasar. Buntutnya, operator pun jorjoran iklan dan perang tarif. Untuk memanjakan konsumen yang mudik lebaran, misalnya, operator berlomba mengeluarkan produk murah meriah dan menyediakan fasilitas untuk pemudik (seperti bengkel dan layanan informasi).Layanan bisnis telekomunikasi seluler bukan lagi milik orang kaya karena operator juga bersaing menggarap pasar bawah. Bayangkan, dengan harga hanya Rp 20 ribu, konsumen mendapatkan paket perdana IM3 Holiday yang berisi pulsa Rp15 ribu dan bonus konten Rp30.000. Tidak mau ketinggalan, Excelcom meluncurkan paket isi ulang ekektronik paling murah senilai Rp 10 ribu. Sementara Telkomsel meluncurkan Kartu AS yang dijual seharga Rp25.000 dan sudah termasuk isi pulsa dengan nilai yang sama. Sudah harga voucher murah, operator juga memberikan fitur bebas roaming nasional atau tidak dikenai biaya saat menerima telepon dari operator mana pun di seluruh Indonesia, serta menggunakan sistem pembayaran flat time. Konsekuensi dari perang harga ini adalah operator memangkas target average revenue per unit (ARPU) dan konsumen tidak loyal pada satu operator.Paket hemat alias paket ekonomis akan meningkatkan jumlah pengguna telepon seluler di Indonesia sekaligus teledensitas. Meskipun jumlahnya meningkat berlipat, pelanggan telepon seluler di Indonesia masih di bawah negara ASEAN lainnya, seperti Malaysia, Thailand, dan Singapura yang ekonominya lebih maju. Kepadatan telekomunikasi memang hampir berbanding lurus dengan tingkat ekonomi sebuah negeri. Menurut survei International Telecommunication Union (ITU), setiap penambahan densitas telepon 1 persen akan merangsang 3 persen pertumbuhan ekonomi.Kepuasan PelangganPerkembangan bisnis telekomunikasi seluler membutuhkan regulasi yang jelas untuk memberikan arah dan gerak di masa depan. Regulasi yang baik mempunyai visi ke depan, sehingga tidak terjadi penghamburan investasi karena penerapan teknologi yang berumur pendek. Sebaliknya, regulasi yang tidak propasar telah mengakibatkan penyelenggara telekomunikasi jasa tumpang tindih, tidak kompetitif, dan terjadi pemborosan investasi. Operator dan pelanggan adalah pelaku yang akan menentukan sukses tidaknya bisnis telepon seluler di Indonesia. Tanpa ada operator, mustahil tersedia jaringan telekomunikasi seluler. Sebaliknya, tanpa konsumen, operator juga tidak mendapatkan dana untuk meneruskan operasional usahanya. Kebanyakan konsumen sebenarnya lebih mementingkan pelayanan yang bagus dan memuaskan. Operator telekomunikasi seluler harus mengubah mental orientasinya, dari orientasi kepada teknologi menjadi orientasi kepada pelanggan. Kebanyakan konsumen tidak begitu peduli kepada kecanggihan teknologi. Karena itu, kebanggaan atas keandalan teknologi yang digunakan harus diubah menjadi kebanggaan atas kemampuan dalam melayani pelanggan dengan baik. Untuk itu, operator harus selalu berorientasi pada pelayanan demi kepuasan pelanggan. Pada gilirannya, kesetiaan pelanggan kepada operator telekomunikasi seluler tentu akan berdampak pada keuntungan sang operator.Industri telekomunikasi seluler telah memainkan peran strategis dalam satu dasawarsa. Berjuta orang telah mendapatkan manfaat dari telekomunikasi seluler, mulai dari mempererat hubungan antarkeluarga, memuluskan bisnis, hingga menggelindingkan roda perekonomian. Sepuluh tahun ke depan, tidak hanya kota besar-seperti Sabang ddan Merauke-yang menikmati asyiknya berkomunikasi. Kelak, dengan terus dibangunnya infrastuktur, telekomunikasi seluler akan menjangkau wilayah kecamatan dan daerah terpencil di seluruh nusantara. "Simeleue hadir, Jayawijaya hadir."*Penulis, Agus Priyanto, adalah Direktur Eksekutif Dinamika (Daya Informasi Komunika), dosen Fikom Universitas Mercu Buana.
(wicak/)