Kamis, 02 Mei 2019 20:42 WIB

Kalau Operator Merger, Bagaimana Nasib Konsumen?

Virgina Maulita Putri - detikInet
Foto: GettyImages Foto: GettyImages
Jakarta - Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) menilai saat ini operator telekomunikasi yang beroperasi di Indonesia masih terlalu banyak. Untuk itu, konsolidasi operator perlu dilakukan untuk menjamin pelayanan yang lebih baik bagi konsumen dan meningkatkan pertumbuhan industri telekomunikasi.

Jika konsolidasi dilakukan, maka jumlah operator nasional yang saat ini berjumlah enam akan menyusut menjadi jumlah yang lebih ideal yaitu dua atau tiga. Lalu bagaimana nasib konsumen operator yang hilang karena konsolidasi?



"Konsumen ini merupakan salah satu item yang akan kita atur dalam aturan tentang konsolidasi. Intinya adalah konsumen tidak boleh dirugikan," kata Ketua Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI), Ismail dalam Indonesia Technology Forum di Balai Kartini, Jakarta, Kamis (2/5/2019).

"Setiap proses merger atau akuisisi yang dilakukan oleh pelaku usaha kepentingan konsumen harus tetap terjaga," sambungnya.

Video: Badan Regulasi Telekomunikasi Tawarkan 3 Opsi Konsolidasi Frekuensi

[Gambas:Video 20detik]



Ismail mengatakan, hak dan kepentingan konsumen yang akan diatur dalam regulasi ini antara lain nomor yang mereka gunakan agar mereka tidak perlu ganti, dan juga kuota serta deposit yang telah dibeli konsumen tidak boleh hilang begitu saja.

Selain itu, operator juga diharapkan untuk meningkatkan kualitas layanan mereka kepada konsumen, karena dengan melakukan konsolidasi, operator telah melakukan penghematan yang cukup lumayan.

"Karena dengan mereka melakukan merger atau akuisisi terjadi penghematan misalnya dari sisi tower. Tapi ujungnya reliability dalam sistem dan quality of service dari telco operator itu harus meningkat," ujar Ismail.

Hal ini juga diamini pendiri Institute for Competition and Policy Analysis (ICPA) yang juga mantan Ketua Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) Muhammad Syarkawi Rauf.

Pria yang biasa disapa Syarkawi ini mengatakan konsumen tidak boleh sekalipun dirugikan baik selama proses konsolidasi maupun sesudahnya.



"Pasca akuisisi itu misalnya dia menjadi perusahaan dominan kemudian menaikkan harga. Misalnya kalau pun dia dituntut untuk menaikkan revenue, bisa dilakukan dengan strategi yang lain," jelas Syarkawi dalam kesempatan yang sama. (rns/rns)

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed