Rabu, 27 Mar 2019 20:11 WIB

Apa Kesulitan Operator Seluler Gelar Jaringan di Rute MRT?

Agus Tri Haryanto - detikInet
Ilustrasi MRT Jakarta. Foto: Pradita Utama Ilustrasi MRT Jakarta. Foto: Pradita Utama
Jakarta - Sejak Moda Raya Terpadu (MRT) Jakarta diresmikan Minggu lalu (24/3), baru ada dua operator seluler yang menggelar jaringan di rute yang dilalui transportasi anyar itu. Lantas, apa masalah yang dihadapi operator seluler lain?

Sampai saat ini Telkomsel dan yang terbaru Smartfren telah resmi memasang jaringannya di sepanjang rute yang dilalui oleh MRT Jakarta dari Bundaran HI-Lebak Bulus. Sementara itu, XL Axiata, Indosat Ooredoo, dan Hutchison Tri Indonesia (Tri) terus berupaya untuk masuk ke area tersebut.

Direktur Teknologi XL Axiata Yessie D. Yosetya mengatakan persoalan harga pasang jaringan di rute MRT Jakarta yang dipatok oleh pihak MRT dinilai terlalu mahal bagi operator seluler. Hingga sekarang, dikatakan Yessie, XL terus melakukan negosiasi agar layanannya bisa dinikmati oleh pelanggan selama menggunakan MRT Jakarta.




"Belum ada perubahan. Proses negosiasi terus dilakukan. Kami juga ingin menyediakan layanan (di rute MRT), makanya perlu disepakati dengan pihak MRT," kata Yessie saat dihubungi detikINET, Rabu (27/3/2019).

Wakil Presiden Tri M. Danny Buldansyah mengucapkan nada yang hampir serupa. Disampaikannya bahwa Tri ingin turut serta menggelar jaringan di rute MRT Jakarta.

"Segera setelah commercial deal-nya rampung dengan provider. Harga belum cocok. Mudah-mudahan segera mencapai kesepakatan yang win-win," ungkapnya.




Baik Yessie maupun Danny enggan untuk menyebutkan harga pasang jaringan yang dipatok oleh MRT Jakarta ini. Bila merujuk pada pernyataan President Director & CEO Indosat Ooredoo Chris Kanter beberapa waktu lalu, operator harus menggelontorkan Rp 600 juta per bulannya.

"Bukan kemahalan, tapi sangat mahal. Jelas tidak bisa lah, ini kan pelayanan publik. Bahwa ada investasi, masa dirugikan mesti sama-sama untung," kata Chris dikutip dari CNN Indonesia.

"Kita ditawarkan Rp600 juta sebulan, sedangkan itu mestinya setahun tidak sampai Rp600 juta," sambungnya.


(agt/krs)

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed