MMS Produk Gagal Operator?
- detikInet
Jakarta -
Sejak disepakatinya layanan MMS lintas operator tahun 2004, gaung MMS tidak terlalu menggema saat ini. MMS produk gagal operator?April 2004 bisa dikatakan kelahiran layanan multimedia messaging service (MMS) di Indonesia. Ketika itu, tiga operator -- Indosat, XL dan Telkomsel -- sepakat menggelar layanan MMS lintas operator. Setahun sebelumnya, layanan MMS memang sudah muncul, hanya saja penyelenggaranya baru lintas dua operator yaitu Indosat dan XL.Di awal kemunculan layanan MMS memang sempat dipertanyakan, apakah bisa sepopuler SMS penggunaannya. Ketika itu, para operator tampil optimis dengan mengatakan bahwa mereka akan melakukan edukasi pasar, untuk lebih memasyarakatkan MMS.Setahun berjalan, layanan yang bisa mengirimkan pesan teks, gambar sekaligus suara ini tampaknya tidak bisa menyamai popularitas SMS. Trafik MMS tidak seramai SMS.Hal tersebut diakui Asosiasi Telepon Selular Indonesia (ATSI). Sekretaris Jenderal ATSI Rudiantara mengatakan, dibanding SMS, bisnis MMS memang jauh lebih kecil."Dibanding SMS, pasar MMS jauh lebih kecil," kata Rudiantara saat dihubungi detikinet, Senin (19/9/2005). "Dari tahun 2004 memang sempat terjadi peningkatan transaksi MMS. Tapi peningkatan dari sesuatu yang kecil, secara bisnis nilainya tetap tidak besar," paparnya.Rudiantara mengaku tidak ada data mengenai trafik MMS. Sebagai gambaran, Rudiantara memaparkan pada tahun 2004, kontribusi non-suara (SMS, data) di industri selular adalah sebesar 25 persen, dengan perincian 22 persen berupa SMS person-to-person dan 3 persen dari aplikasi seperti SMS polling, kuis, WAP dan MMS.Pria yang juga menjabat sebagai Corporate Affair Director XL mengatakan, layanan MMS seharga SMS yang digelar XL beberapa waktu lalu memang sempat menaikkan trafik MMS, tapi tetap tidak memberi kontribusi yang berarti dari segi bisnis"Trafiknya memang meningkat, dari 1000 menjadi 3000, tapi dengan harga Rp 350 per MMS, nilainya jadi tidak seberapa," ungkapnya.Layanan yang Harus AdaDiakui Rudiantara, MMS merupakan layanan pelengkap yang sejak awal memang tidak ditujukan sebagai lahan bisnis operator."Dari awal MMS memang merupakan higiene factor. Yaitu layanan yang harus disediakan oleh operator, tapi tidak jadi bisnis. Karena kalau tidak disediakan, pelanggan cenderung pindah ke operator lain," kata Rudiantara.Selain itu, karakteristik pasar seluler Indonesia dinilai sebagai penyebab rendahnya lalu-lintas MMS."Pasar Indonesia kebutuhannya sederhana, hanya sebatas pesan dan suara saja. Walaupun secara fashion pasar kita mementingkan fashion, tapi secara kebutuhan sangat mendasar," ungkap Rudiantara.Dikatakannya, saat ini jutaan ponsel punya fitur MMS, tapi tidak banyak konsumen yang memanfaatkannya. "Konsumennya tidak mau repot, hanya memanfaatkan fitur-fitur mendasar saja," tuturnya.Sementara itu, dalam kesempatan berbeda SVP Product Development Indosat Mohammad Amin mengatakan, kekurangpopuleran MMS disebabkan karena kesulitan seting."Seting MMS itu sulit. Itu yang menyebabkan MMS gagal, dan itu tidak hanya berlaku di Indonesia tapi juga di seluruh dunia," ungkapnya.
(ketepi/)