Sabtu, 21 Jul 2018 06:45 WIB

Indonesia Mau Nebeng Satelit Internet Asing

Adi Fida Rahman - detikInet
Foto: istimewa Foto: istimewa
Papua - Pemerintah berencana meluncurkan satelit internet pada 2022 mendatang. Sembari menunggu, pemerintah akan memanfaatkan satelit asing yang prosesnya dimulai Agustus ini.

Dijelaskan Direktur Anang Latif, Dirut Balai Aksesibilitas Teknologi Informasi (BAKTI) Kominfo, pemerintah berupaya menyelimuti Indonesia dengan internet cepat atau broadband. Upaya yang dilakukan dengan menggelar kabel optik Palapa Ring.

Program ini terbagi atas tiga bagian, yakni paket Barat, Tengah dan Timur. Saat ini proses kontruksinya masih terus berjalan dan ditargetkan akhir tahun nanti rampung dan 2019 dapat beroperasi seluruhnya.



"Saat ini paket barat sudah 100%, paket tengah 87% dan paket timur 56%. Keseluruhan paket akan terintegrasi akhir tahun ini, sehingga 2019 awal sudah bisa dimanfaatkan operator," jelas Anang saat ditemui detikINET di Papua.

Dengan adanya Palapa Ring ini, kecepatan koneksi internet di Indonesia akan meningkat. Dijanjikan minimal kecepatan 20 Mbps akan dirasakan masyarakat. Ini 10 kali lebih cepat dari sekarang.

"Sekolah dan Puskesmas ditargetkan bisa mendapatkan minimal 20 Mbps. Sehingga proses belajar mengajar maupun dukungan kesehatan di Puskesmas bisa lebih efektif, lebih canggih pertukaran datanya," papar Anang.

"Tentunya ini memperbaiki peringkat khususnya yang selamanya ini ada. Layanan hingga mencapai 20 Mbps hingga pelosok sungguhnya peningkatan yang signifikan. Maksimal 20 Mbps bearti 10 kali dari sekarang. Biaya pun lebih murah karena memanfaatkan Palapa Ring," imbuhnya.

Anang Latif, Dirut BAKTIAnang Latif, Dirut BAKTI Foto: Adi Fida Rahman/detikINET


Namun Palapa Ring tidak sepenuhnya dapat menjangkau seluruh wilayah di Tanah Air. Dihitung BAKTI ada 150 ribut totol yang tidak mungkin dijangkau dengan teknologi terresterial. Solusinya menggunakan satelit high throughput (HTS).

Pemerintah berencana akan meluncurkan HTS pada 2022 mendatang. Pengadaannya akan menggunakan skema kerjasama banda usaha. Lantaran proses kontruksinya memerlukan waktu tiga tahun, pihak BAKTI akan menyewa terlebih dulu kapasitas satelit milik negara lain. Sehingga pemerintah tetap dapat menyebarkan internet ke daerah pelosok sembari menunggu satelit pemerintah mengangkasa.

"Rencananya per mulai Agustus sewa kapasitas beberapa satelit milik negara lain sampai punya pemerintah meluncur. Satelit tersebut akan dikelola BAKTI selama lima tahun ke depan," jelas Anang.



Rencananya pemanfaatan satelit ini tidak hanya untuk internet, tapi juga BTS di daerah pelosok. Hingga 2019 nanti, BAKTI menargetkan dapat membangun lebih dari 5.000 BTS di daerah 3T. Saat ini lebih dari 800 BTS sudah dioperasikan.

"Kami sedang menyiapkan satelit, tidak saja untuk internet tapi juga untuk BTS di 3T. Sehingga kami tidak hanya menggelar 2G tapi bisa langsung 4G," pungkas Anang. (afr/rou)

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed