Kamis, 28 Jun 2018 19:51 WIB

Nomor Aneh Peneror Tim IT KPU Bisakah Dilacak?

Rachmatunnisa - detikInet
Ilustrasi. Foto: Australia Plus ABC Ilustrasi. Foto: Australia Plus ABC
Jakarta - Nomor aneh berawalan +100 yang meneror salah seorang konsultan IT Komisi Pemilihan Umum (KPU) Harry Sufehmi, membuat orang bertanya-tanya, dari mana nomor tersebut berasal?

Pakar keamanan siber Alfons Tanujaya menyebutkan, nomor +100 bukan kode negara tertentu, melainkan caller ID yang sengaja dipalsukan.

"Nomor caller ID itu bisa dipalsukan. Kemungkinan menggunakan teknologi yang berkaitan dengan VoIP seperti Skype dan sejenisnya. Sengaja dibuat caller ID palsu supaya sulit dilacak," kata Alfons.



Meski pelaku kejahatan berupaya memalsukannya, Alfons menyebutkan bahwa nomor peneror itu tetap bisa dilacak.

"Kalau provider telkonya ya bisa melacak telepon berasal dari mana. Tapi kalau kanal yang dipakai kanal umum, operator VoIP akan ribet. Kalau sesama provider telko kan mudah terlacak. Kalau VoIP bisa dari mana saja di dunia dan providernya tidak terdaftar sebaik operator telekomunikasi," terang Alfons.

Sebelumnya diberitakan, pasca Pilkada serentak yang berlangsung kemarin (27/6/2018), Harry dibombardir misscall aneh. Tak hanya sekali, misscall tersebut berlangsung hingga ratusan.

Menurut Harry, teror misscall ini rata-rata menggunakan nomor dengan awalan +100, di mana angka tersebut belum diketahui kode negara mana.

Harry pun langsung memutuskan untuk mematikan SIM card miliknya dan menggunakan koneksi internet melalui WiFi untuk berkomunikasi.

Menurut penuturan Harry, bukan hanya dia yang mendapatkan teror misscall aneh seperti ini. Diungkapkan dia, hampir semua personil tim IT KPU mendapatkan kejadian serupa yang dialaminya.

"Nyaris semua personil tim IT KPU kena bombardir dan usaha hacking Telegram ini," sebutnya.



Teror misscall yang menyasar Herry terjadi pada Rabu malam sekitar pukul 24.00 WIB. Ketika itu, ada SMS masuk ke ponselnya. Isinya berupa kode otentikasi yang biasa digunakan untuk login ke sebuah layanan.

Saat dicek, menurut Harry, ada hacker via Singapura yang baru saja masuk ke akun Telegram miliknya. Herry pun langsung memutuskan koneksi. Alhasil, usaha peretasan ke akun Telegram ini tidak berhasil karena dirinya mengaktifkan fitur TFA di Telegram. (rns/rns)

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed