Jumat, 29 Sep 2017 17:57 WIB

Mau Ditinggal CEO, Ini Peluang dan Tantangan Indosat

Muhamad Imron Rosyadi - detikInet
Suasana acara. Foto: Muhamad Imron Rosyadi/inet Suasana acara. Foto: Muhamad Imron Rosyadi/inet
Jakarta - CEO Indosat yang akan lengser dari jabatannya, Alexander Rusli, membagikan pengalamannya. Terutama soal peluang dan tantangan yang dihadapi Indosat. Ia mengatakan bahwa terdapat tiga kunci bagi perusahaan telco agar tetap bisnis yang dijalankannya sukses dan berkelanjutan.

"Uang, teknologi, dan hubungan baik dengan regulator," ucap Alex dalam acara Selular Business Forum di Jakarta yang bertema '50 Tahun Indosat Ooredoo, What's next?'.

Meski begitu, ia mengatakan tak ada jaminan bagi perusahaan terus sukses walau memiliki ketiga hal tersebut. Tetap dibutuhkan improvisasi mengikuti kondisi pasar terkini, target yang ingin dicapai, serta efisiensi terhadap biaya untuk menjawab tantangan yang dapat menerpa kapan saja.

"Kini, consumer business mulai terasa jenuh karena semua orang sudah pakai smartphone dan menggunakan data seluler. Maka dari itu, kami sudah mengarahkan bisnis kami ke model B2B, mengingat opsi business content sangat sulit dijalankan. Sekarang sih kegiatan B2B kami masih di kisaran 25%, tapi idealnya adalah 50% B2B 50% consumer business. Itu yang sedang kami kejar," katanya

Meskipun berniat meningkatkan pertumbuhan bisnis B2B, Alexander Rusli juga mengungkapkan beberapa tantangan di dalamnya.

"Bisnis B2B pasti terus tumbuh, namun kecepatan pertumbuhannya yang perlu diperhatikan. Normalnya, pertumbuhannya dapat terlihat dalam 9 sampai 10 tahun, tapi bisa lebih cepat. Besarnya margin business connectivity dibanding business IT menjadi salah satu tantangan untuk mempercepat pertumbuhan bisnis B2B, " ujarnya menjelaskan.

Selain itu, tantangan yang juga dihadapi Indosat Ooredoo adalah melakukan efisiensi biaya. "Sampai sekarang, kami melakukan efisiensi di sektor power. Kalau ada aset yang bisa dijual, dan memungkinkan untuk dibeli kembali, ya kami jual dulu sementara," ucapnya.

"Kalau menjual kepemilikan, agak sulit kami lakukan karena belum tentu bisa dibeli kembali. Selain itu, kami juga menghindari untuk mengurangi biaya marketing karena yang lain sedang jor-joran. Tantangannya adalah bagaimana kami mencari jalan lain untuk efisiensi," katanya menjelaskan.

Lalu, Alexander Rusli mengatakan bahwa target perusahaan masih tetap sama, yaitu untuk tumbuh beriringan dengan pertumbuhan industri. "Kalau lebih cepat, itu berarti makan kue orang. Kita nggak mau kayak gitu," ujarnya. (fyk/fyk)
-
Load Komentar ...

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed