Kamis, 31 Agu 2017 16:55 WIB

Satelit Hancur? Telkom: Kami Masih Bisa Kirim Sinyal

Achmad Rouzni Noor II - detikInet
VP Corporate Communication Telkom Arif Prabowo (detikINET/Achmad Rouzni Noor II) VP Corporate Communication Telkom Arif Prabowo (detikINET/Achmad Rouzni Noor II)
Jakarta - Satelit Telkom 1 sempat dilaporkan hancur berkeping-keping. Kondisi itu pun ikut ditanggapi Telkom setelah berkoordinasi dengan pabrikan pembuat satelitnya.

"Telkom bersama Locheed Martin, pabrikan satelit Telkom 1, terus berkoordinasi untuk memantau perkembangannya," kata Vice President Corprorate Communication Telkom Arif Prabowo kepada detikINET, Kamis (31/8/2017).

"Terkait pemberitaan yang menyatakan kondisi Telkom 1 dan adanya obyek di luar angkasa di sekitar posisi Telkom 1 dapat kami sampaikan bahwa kondisi saat ini (31/8), melalui Stasiun Pengendali Utama Satelit, Telkom 1 masih dapat menerima command dan mengirim sinyal telemetri satelit," paparnya lebih lanjut.

Demikian tanggapan Telkom terkait laporan yang dimaksud. Sementara diberitakan sebelumnya, kondisi Telkom 1 mulai mendapat titik terang setelah ExoAnalytic Solutions menemukan obyek yang diduga pecahan dari satelit tersebut berkat pelacakan di orbit geostasioner.

Pihak ExoAnalytic menggunakan algoritma untuk meninjau data yang dikumpulkan oleh jaringannya secara global dari 165 teleskop untuk anomali, salah satu instrumennya di Australia timur ini yang menemukan detik-detik Telkom 1 saat pensiun dini lebih awal.

"Apa yang Anda lihat tampaknya banyak bahan reflektif yang berasal dari pesawat luar angkasa," ujar CEO ExoAnalytic Doug Hendrix seperti detikINET kutip dari Arstechnica, Kamis (31/8/2017).

ExoAnalytic juga merilis gambar dan video berdurasi 1 jam 12 menit ini yang menampilkan objek diduga dari Telkom 1. "Apakah itu panel surya, bahan bakar, atau puing lainnya. Kami tidak begitu tahu," ungkap Hendrix.

Melacak Telkom 1 begitu sulit karena ExoAnalytic harus melacak 2.000 objek di geostasioner, bahkan beberapa di antaranya obyeknya bisa dilihat sekitar 20 cm. Dari jumlah obyek di geostasioner, seperempatnya adalah satelit gabungan antara aset militer, cuaca, dan komunikasi, serta sisanya adalah puing-puing.

"Saya tidak tahu populasi sebenarnya di atas sana, apakah ini (Telkom 1) adalah tambahan yang signifikan," sebutnya.

Telkom 1 sendiri merupakan satelit yang diluncurkan pada 12 Agustus 1999 dengan umur desain sekitar 15 tahun.

Berdasarkan hasil assesment Lockheed Martin pada 2014 dan 2016, Telkom 1 dinyatakan dalam kondisi baik dan dapat beroperasi normal dengan kecukupan bahan bakar hingga beberapa tahun ke depan, sekurang-kurangnya hingga 2019.

Perusahaan BUMN ini baru merencanakan untuk meluncurkan Telkom 4 pada Agutus 2018. Slot orbit 108 derajat Bujur Timur yang ditempati oleh Telkom 1 akan diganti oleh Telkom 4 dengan kapasitas yang lebih besar lagi sebagai upaya memenuhi kebutuhan transponder yang kian meningkat.

ExoAnalytic mengatakan kejadian yang dialami oleh Telkom 1 ini merupakan yang kedua dalam kurun waktu dua bulan terakhir di orbit geostasioner. Sebelumnya pada 17 Juni, operator satelit Luksemburg kehilangan kontrol di orbit yang lokasinya di atas 36 ribu kilometer dari permukaan Bumi. (rou/rou)
-
Load Komentar ...

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed