Jumat, 21 Apr 2017 17:07 WIB

Nokia Playbook, Bisa Jadi Contekan Anies-Sandi Bikin Smart City

Yudhianto - detikInet
Foto: detikINET/Yudhianto Foto: detikINET/Yudhianto
Jakarta - Jika pasangan Gubernur dan Wakil Gubernur DKI terpilih, Anies Baswedan dan Sandiaga Uno, ingin mengembangkan Jakarta smart city, mungkin bisa menjadikan Smart City Playbook keluaran Nokia sebagai rujukan.

Implementasi smart city terbukti semakin meluas. Pasalnya Nokia baru saja mengumumkan yang namanya Smart City Playbook, yang berisi laporan mengenai strategi pengembangan smart city dari seluruh dunia.

Tapi lebih dari itu, Smart City Playbook diyakini bakal sangat berguna bagi kota-kota yang berencana menerapkan smart city. Sebab laporan-laporan yang tersimpan di dalamnya bisa dijadikan acuan untuk pengembangan smart city.

Tercatat ada 22 kota di dunia yang telah memanfaatkan smart city yang masuk dalam Smart City Playbook. Kota-kota tersebut antara lain adalah Auckland, Bangkok Barcelona, Berlin, Bogota, Bristol, Cape Town, Cleveland, Delhi, Dubai, Jeddah, Mexico City, New York, Paris, Pune, San Francisco, Sao Paulo, Shanghai, Singapura, Tokyo, Wina, dan Wuxi.

Meski ditemukan keragaman di tiap kota yang tercatat di Smart City Playbook, ditemukan tiga 'rute' utama yang dimanfaatkan masing-masing kota untuk membuat wilayahnya menjadi cerdas.

Rute pertama disebut sebagai 'jangkar', solusi smart city ini hanya menggunakan aplikasi tunggal di satu sektor, misalya untuk menangani masalah lalu lintas. Seiring waktu aplikasi ini akan ditingkatkan kemampuannya seiring kebutuhan. Kelemahannya, tiap-tiap sektor bisa menggunakan aplikasi yang berbeda-beda.

Sementara rute kedua dibilang sebagai 'platform'. Solusi yang ini dipastikan lebih tinggi posisinya dari 'jangkar' karena mampu menyodorkan kemampuan yang lebih kompleks. Kalau 'jangkar' dianggap sebagai aplikasi-aplikasi tunggal yang dipakai di beda-beda sektor dalam smart city, maka platform merupakan satu solusi yang berisi banyak aplikasi.

Keuntungannya penggunaan 'platform' adalah pengguna bisa memiliki aplikasi yang bisa bersinergi satu lama lain. Selain itu platform juga bisa memenuhi kebutuhan smart city dengan berbagai sektor di dalamnya, namun hanya dengan solusi.

Menggunakan 'platform', pengguna bisa menambah sendiri aplikasi yang dibutuhkan sesuai kebutuhan namun tanpa khawatir terjadi konflik. Karena sebanyak apapun aplikasi yang digunakan, tetap berjalan dalam satu platform.

Sedangkan rute ketiga adalah dinamai Beta Cities. Rute ini diambil ketika sebuah kota ingin menjajal lebih dari satu platform di wilayahnya. Misalnya platform yang satu untuk menangani sektor –sektor penting, sementara platform yang satunya lagi untuk sektor-sektor pendamping.

Penggunaan lebih dari satu platform memberi keuntungan sebagai perbandingan. Yang pada akhirnya dasar perbandingan tersebut bisa dijadikan pertimbangan untuk memilih salah satu platform secara jangka panjang.

"Proses pengembangan smart city sangat kompleks, dan banyak strategi berbeda yang ditawarkan pasar. Tujuan kami dalam laporan yang dilakukan oleh Machinima Research ini adalah mengidentifikasi strategi yang berhasil di kota-kota tersebut," kata Danial Mausoof, Head of Marketing dan Corporate Affairs Nokia Asia Pasifik dan Jepang, di kantor Nokia, Menara Mulia, Jakarta, Jumat (21/4/2017). (yud/rou)
-
Load Komentar ...

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed