Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Rini Soemarno, mengatakan ada ketidakadilan bagi Telkomsel lantaran anak usaha Telkom tersebut selama ini sudah berinvestasi tak sedikit, serta mengambil risiko yang besar ketika membangun infrastruktur di daerah pelosok.
"Sekarang permintaannya kita sudah membangun semua, ada yang mau minta sharing, kalau mau sharing tentu kita mempertanyakan. Waktu kita pertama kali mau bikin, risiko kita tinggi loh, kok mereka nggak mau bikin, dan risiko kita waktu itu tinggi karena namanya trafik masih rendah sekali," katanya ditemui di Suntec, Singapura, Rabu (23/11/2016).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mantan Presiden Direktur Astra Internasional ini berujar, Telkomsel yang jadi tulang punggung Telkom dalam pasar seluler sudah cukup berdarah-darah di awal merintis pembangunan infrastruktur, sehingga rasanya tak adil jika diwajibkan membagi infrastrukturnya.
"Indonesia kan memang sangat luas, jadi kita dalam hal ini seperti Telkom sendiri melakukan investasi sehubungan dengan sub marine cable, dan investasi untuk betul-betul membangun infrastruktur backbone di seluruh Indonesia. Itu kan bukan cost yang murah dan risiko tinggi," ungkap Rini.
Pihaknya, sambungnya, bukannya tidak sepakat dengan perubahan regulasi yang didorong oleh Menteri Komunikasi dan Informasi, Rudiantara, tersebut. Namun sebagai Menteri BUMN, ada pertimbangan lain untuk mempertahankan aset negara.
"Jadi kita berharapnya dalam hal ini kita harus betul-betul dikalkulasi dong investasi dan risiko yang diambil Telkom kalau memang ada infrastructure sharing. Jadi bukan kita minta landscape berubah," tandas Rini. (rou/rou)