Head of Product Bolt Angkasa Perdana Putra mengatakan, layanan video streaming yang dipilih pengguna masih didominasi OTT (Over the Top) asing.
Untuk kontribusinya sendiri sudah mencapai 40%. "Bayangkan dari 100%, 40%-nya itu streaming. Nah, streaming-nya itu rata-rata di YouTube," imbh Angki, sapaan akrabnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami percaya bahwa video akan menjadi salah satu driver dari penggunaan internet. Nah, karenanya ke depannya Bolt akan fokus ke segmen video, apakah nantinya akan ada paket khusus video atau yang lain," lanjutnya.
Masih dalam kesempatan yang sama, Presiden Direktur Bolt Dicky Moechtar menambahkan jika konten video diperkirakan bakal menyumbangkan pendapatan sekitar 10% dalam dua tahun bagi Bolt.
Untuk bisa mencapai target tersebut, Bolt saat ini bergantung pada layanan OTT dan video streaming. "Ini sebenarnya menarik, dimana kami sebetulnya juga bergantung pada layanan video streaming asing, seperti Netflix, iFlix, dimana itu sudah mulai marak di Indonesia. Jadi saya percaya ini juga akan mendorong penggunaan kuota di sisi internet provider," pungkas Dicky.
(mag/ash)











































